Menu

Dark Mode
Pramono Dorong Investasi Singapura untuk MRT Fase 3 dan Transformasi Jakarta ‘go’ Global Rehabilitasi Terumbu Karang di Perairan Pulau Hanita, Manggarai Barat Pertumbuhan Semu 5,61% di Tengah Loyonya Rupiah dan IHSG : Ujian Berat Pengambilan Keputusan Ekonomi Kabinet Prabowo Pengalaman Transaksi Modern Bersama Bank Jakarta dan BliBli di Jakarta Fair 2026 Bank Jakarta Hadir di Hall C1 Anjungan Pemprov DKI di Jakarta Fair 2026 Masih Perlukah Kuliah di Era Skill-Based Economy?

Opini

WFH: Hemat Energi, Tapi Sehatkah?

badge-check


					WFH: Hemat Energi, Tapi Sehatkah? Perbesar

Oleh: Dr. Ajeng Tias Endarti, SKM.,M.Comm Health, Wakil Rektor Universitas MH Thamrin

Tring. Pesan baru di grup kantor muncul. Isinya tentang edaran WFH di setiap hari Jumat. Tentunya kebijakan ini didasarkan atas himbauan pemerintah pusat untuk melakukan penghematan energi di tengah situasi geopolitik global yang sedang memanas. Kebijakan ini rasanya cukup tepat. Bayangkan, dari ratusan karyawan dalam satu institusi saja, lebih dari setengahnya tinggal di luar DKI dan mayoritas menggunakan kendaraan pribadi.

Dalam satu hari WFH, ratusan liter BBM berpotensi dihemat hanya dari satu kantor. Jika dikalikan dengan ribuan institusi di Jakarta, belum lagi sekolah, dan belum lagi wilayah lain di Indonesia, dampaknya tentu tidak kecil. Dari aspek penghematan energi, kebijakan ini undeniable dapat menurunkan konsumsi BBM sekaligus mengurangi biaya transportasi individu.

Tapi, perubahan pola kerja seperti ini pada dasarnya tidak bebas dari risiko. Saya tidak akan berbicara dari sisi kinerja atau produktivitas, karena itu di luar keilmuan saya. Saya justru mencoba melihat dari aspek kesehatan—bagaimana WFH bisa memberikan dampak yang cukup besar, bahkan tanpa kita sadari.

Coba kita lihat dari sudut pandang yang jujur: pegawai “mager”. Dan kalau boleh jujur, sebagian besar dari kita mungkin ada di kategori ini. Saat WFO, sebenarnya ada banyak momen yang “memaksa” kita untuk bergerak. Mulai dari perjalanan dari rumah ke stasiun atau halte, jalan kaki menuju kantor, naik tangga, hingga berpindah ruang untuk rapat atau diskusi. Bahkan jarak ke toilet di kantor pun sering kali lebih jauh dibandingkan di rumah. Semua itu, jika dijumlahkan, bisa berarti ribuan langkah dalam sehari.

Saat WFH? Proses itu hampir hilang seluruhnya. Kita bisa langsung membuka laptop bahkan beberapa menit setelah bangun tidur. Tidak ada perjalanan, tidak ada mobilitas antar ruang, tidak ada alasan untuk bergerak. Yang tersisa adalah duduk. Lama. Dan terus-menerus.

Berbagai studi selama pandemi menunjukkan bahwa pola kerja dari rumah berkontribusi pada peningkatan waktu duduk hingga 2–3 jam per hari, disertai penurunan aktivitas fisik secara signifikan. Bahkan, data global mencatat penurunan jumlah langkah harian hingga hampir 30% dalam waktu singkat.

Dalam jangka pendek mungkin tidak terasa. Tapi dalam jangka panjang, ini menjadi masalah serius. Perilaku sedentary—terlalu lama duduk dengan minim aktivitas fisik—telah terbukti berkaitan dengan peningkatan risiko berbagai penyakit kronis, mulai dari Diabetes Melitus, penyakit jantung, hingga peningkatan risiko kematian dini.

Artinya, kenyamanan WFH diam-diam membawa konsekuensi kesehatan yang tidak kecil. Ini bukan berarti kebijakan WFH adalah kebijakan yang salah. Justru sebaliknya—dari perspektif penghematan energi dan pengurangan emisi, WFH adalah langkah yang sangat strategis. Namun dalam kacamata kesehatan masyarakat, setiap kebijakan hampir selalu memiliki trade-off. Apa yang menguntungkan di satu sisi, bisa menimbulkan risiko di sisi lain.

Di sinilah pentingnya melihat kebijakan secara lebih utuh. Jika WFH meningkatkan sedentary lifestyle, maka pertanyaannya bukan lagi “perlu atau tidak WFH”, tetapi bagaimana kita mengantisipasi dampak kesehatannya. Intervensinya sebenarnya tidak harus kompleks. Mulai dari hal sederhana seperti pengingat untuk bergerak setiap beberapa jam, jeda aktif di sela pekerjaan, atau sekadar berjalan kaki singkat di sekitar rumah. Hal-hal kecil ini mungkin terdengar sepele, tetapi dalam konteks populasi, dampaknya bisa sangat besar.

Pada akhirnya, WFH mengajarkan kita satu hal penting: tidak semua dampak kebijakan terlihat di permukaan. Penghematan energi bisa dihitung dalam liter bahan bakar. Tapi berkurangnya aktivitas fisik terjadi diam-diam—tanpa suara, tanpa alarm. Dan justru karena tidak terlihat, dampaknya sering kali datang terlambat. Mungkin di tengah upaya kita menjadi lebih efisien, ada satu pertanyaan sederhana yang perlu kita renungkan: apakah kita benar-benar sedang menjadi lebih sehat, atau justru tanpa sadar sedang bergerak semakin sedikit?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Pertumbuhan Semu 5,61% di Tengah Loyonya Rupiah dan IHSG : Ujian Berat Pengambilan Keputusan Ekonomi Kabinet Prabowo

12 June 2026 - 14:39

Masih Perlukah Kuliah di Era Skill-Based Economy?

11 June 2026 - 13:40

Trust lebih Penting daripada Angka, Dengarkan juga Nasihat SBY

6 June 2026 - 19:09

Cermin Mengapa & Bagaimana Habibie bisa Mengubah Nilai Tukar dari 16.800 rupiah menjadi 6500 rupiah per US Dollar

19 May 2026 - 17:03

Dari Coding ke Kehidupan: Peran Ilmu Komputer dalam Transformasi Kesehatan

19 May 2026 - 16:23

Trending on Opini