Oleh: Dr. Sutrisno, SE., MM., MKM.
“Masih perlukah kuliah?”
Pertanyaan ini dulu dianggap sinis. Hari ini, ia menjadi pertanyaan rasional berbasis data.
Mari kita mulai bukan dengan opini, tetapi dengan fakta.
Realitas yang Tak Nyaman: Lulusan Tinggi, Pengangguran Juga Tinggi
“Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran Indonesia pada Februari 2024 mencapai 7,2 juta orang dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,82%. Yang perlu menjadi perhatian adalah bahwa tingkat pengangguran lulusan Diploma IV hingga Doktor masih mencapai 5,63%. Bahkan, berdasarkan pengolahan data BPS, jumlah pengangguran dari kelompok berpendidikan tinggi telah mencapai sekitar 842 ribu orang pada tahun 2024. Fenomena ini menunjukkan bahwa peningkatan jumlah lulusan perguruan tinggi belum sepenuhnya diikuti oleh peningkatan kesempatan kerja yang sesuai dengan kompetensi mereka.” Ini bukan angka kecil. Ini adalah alarm keras. Artinya, semakin tinggi pendidikan seseorang, tidak otomatis semakin tinggi peluang kerjanya.
Selain itu juga data global dari World Economic Forum (Future of Jobs Report 2025) yang menunjukkan bahwa sekitar 39% keterampilan inti pekerja diperkirakan akan berubah pada periode 2025–2030 akibat perkembangan AI dan digitalisasi. Data ini akan memperkuat argumen bahwa isu utamanya bukan lagi sekadar gelar, tetapi relevansi kompetensi dengan kebutuhan industri. Jika Anda berkenan, saya dapat membantu mencarikan dan mengintegrasikan data WEF, OECD, dan UNESCO agar artikel tersebut setara dengan opini yang biasa dimuat di media nasional seperti Kompas, Media Indonesia, atau Republika
Paradoks Pendidikan Tinggi: Produksi Lulusan vs Serapan Pasar
Pendidikan tinggi di Indonesia saat ini menghadapi sebuah paradoks. Di satu sisi, perguruan tinggi terus meningkatkan jumlah lulusan sebagai bagian dari upaya mencetak sumber daya manusia yang unggul. Namun di sisi lain, kemampuan pasar kerja untuk menyerap lulusan tersebut tidak tumbuh dengan kecepatan yang sama. Data menunjukkan bahwa sekitar 75,34% angkatan kerja lulusan sarjana terkonsentrasi di wilayah perkotaan, sehingga menyebabkan persaingan kerja semakin ketat dan terjadinya kelebihan pasokan tenaga kerja terdidik (over-supply) di kota-kota besar.
Kondisi ini juga mencerminkan masih adanya kesenjangan antara persebaran kesempatan kerja dan distribusi tenaga kerja antarwilayah. Akibatnya, tidak semua lulusan dapat memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan kompetensinya. Fenomena ini menunjukkan bahwa keberhasilan perguruan tinggi tidak lagi cukup diukur dari banyaknya lulusan yang dihasilkan, tetapi juga dari kemampuan menghasilkan lulusan yang memiliki keterampilan, kompetensi, dan kesiapan kerja yang sesuai dengan kebutuhan dunia industri. Dengan kata lain, pasar kerja saat ini tidak hanya mencari mereka yang berhasil lulus, tetapi lebih mengutamakan mereka yang benar-benar siap untuk bekerja dan beradaptasi dengan perubahan zaman.
Bandingkan dengan Dunia: Pendidikan Tinggi Masih Penting
Pendidikan tinggi masih memiliki peran penting dalam meningkatkan peluang kerja. Data dari negara-negara anggota OECD menunjukkan bahwa individu dengan pendidikan tinggi cenderung memiliki tingkat pengangguran yang lebih rendah dibandingkan mereka yang berpendidikan rendah. Namun, pengalaman negara-negara maju juga menunjukkan bahwa gelar akademik saja tidak lagi cukup untuk menjamin seseorang memperoleh pekerjaan.
Perusahaan kini semakin mengutamakan keterampilan, pengalaman, dan kemampuan beradaptasi dibandingkan sekadar latar belakang pendidikan formal. Dalam konteks ini, gelar akademik lebih berfungsi sebagai syarat dasar (baseline) untuk memasuki dunia kerja, sementara keunggulan kompetitif ditentukan oleh penguasaan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri. Oleh karena itu, pendidikan tinggi tetap penting, tetapi harus mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya berijazah, melainkan juga kompeten dan siap menghadapi perubahan dunia kerja yang semakin dinamis.
Masalah Utama: Skill Mismatch, Bukan Sekadar Pengangguran
Persoalan ketenagakerjaan saat ini tidak hanya berkaitan dengan tingginya angka pengangguran, tetapi juga ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja (skill mismatch). Fenomena ini terlihat dari banyaknya lulusan perguruan tinggi yang tersedia, sementara di sisi lain berbagai lowongan pekerjaan juga masih terbuka. Namun, keduanya sering kali tidak bertemu karena keterampilan yang dimiliki lulusan belum sepenuhnya sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan industri.
Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara orientasi pendidikan yang cenderung menekankan aspek akademik dan kebutuhan pasar kerja yang lebih mengutamakan keterampilan praktis, adaptabilitas, serta kemampuan menyelesaikan masalah. Akibatnya, banyak lulusan yang kesulitan memasuki dunia kerja meskipun peluang kerja sebenarnya tersedia.
Kampus Harus Menjadi Jembatan antara Teori dan Praktik
Salah satu kritik yang perlu menjadi perhatian dunia pendidikan tinggi adalah masih dominannya pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada teori dibandingkan praktik. Akibatnya, banyak mahasiswa memiliki pemahaman akademik yang baik dan berhasil meraih IPK tinggi, namun belum sepenuhnya siap menghadapi tuntutan dunia kerja yang terus berkembang. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kompetensi yang dibangun di perguruan tinggi dengan kebutuhan industri. Oleh karena itu, persoalan tersebut tidak dapat semata-mata dibebankan kepada mahasiswa, melainkan mencerminkan perlunya transformasi sistem pendidikan tinggi agar lebih mampu mengintegrasikan pengetahuan akademik dengan pengalaman dan keterampilan praktis yang relevan dengan dunia kerja.
Menyadari tantangan tersebut, Universitas Mohammad Husni Thamrin terus mengembangkan model pembelajaran yang menggabungkan penguasaan teori dengan pengalaman praktik di dunia kerja. Melalui empat fakultas yang dimiliki, yaitu Fakultas Kesehatan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Komputer, serta Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual di ruang kelas, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung dari praktik lapangan, dunia usaha, dunia industri, dan berbagai institusi mitra.
Khusus di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Program Studi Akuntansi dan Manajemen dirancang untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya memahami teori manajemen dan akuntansi, tetapi juga memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia profesional. Melalui konsentrasi Perpajakan dan Pasar Modal, mahasiswa memperoleh pengalaman pembelajaran berbasis praktik, termasuk kegiatan observasi, pelatihan, simulasi transaksi, serta praktik langsung yang bekerja sama dengan Bursa Efek Indonesia. Pendekatan ini memungkinkan mahasiswa memahami dinamika pasar keuangan secara nyata, mengenal mekanisme investasi dan perdagangan efek, serta menghubungkan konsep-konsep yang dipelajari di kelas dengan praktik yang terjadi di dunia industri.
Model pembelajaran seperti ini menjadi salah satu bentuk implementasi konsep link and match antara perguruan tinggi dan dunia kerja. Dengan memperkuat kolaborasi antara kampus dan industri, lulusan diharapkan tidak hanya memiliki gelar akademik, tetapi juga keterampilan, pengalaman, dan kesiapan kerja yang dibutuhkan untuk bersaing di era ekonomi berbasis kompetensi (skill-based economy).
Dunia Kerja Telah Berubah
Perubahan dunia kerja di era digital menunjukkan bahwa keberhasilan karier tidak lagi ditentukan semata-mata oleh gelar akademik. Perusahaan kini semakin mengutamakan kompetensi yang dapat dibuktikan melalui portofolio, sertifikasi profesional, pengalaman proyek, serta kemampuan menyelesaikan masalah secara nyata. Selain itu, keterampilan digital, kemampuan analitis, dan adaptabilitas terhadap perubahan menjadi faktor penting yang dicari oleh pemberi kerja. Kondisi ini menunjukkan bahwa dunia kerja telah bergeser menuju skill-based economy, di mana yang menjadi pertimbangan utama bukan lagi asal perguruan tinggi atau gelar yang dimiliki, melainkan kemampuan dan kontribusi yang dapat diberikan seseorang kepada organisasi.
Jika Kampus Tidak Beradaptasi, Relevansinya Akan Dipertanyakan
Perubahan kebutuhan dunia kerja menuntut perguruan tinggi untuk terus beradaptasi. Jika kampus tetap bertahan dengan model pendidikan yang kurang responsif terhadap perkembangan industri dan teknologi, maka relevansinya akan semakin dipertanyakan oleh masyarakat. Saat ini mulai muncul pandangan bahwa kuliah tidak selalu menjadi satu-satunya jalan menuju kesuksesan karier, terutama ketika biaya pendidikan yang tinggi tidak diimbangi dengan peningkatan peluang kerja. Di sisi lain, berbagai alternatif pembelajaran seperti bootcamp, kursus online, sertifikasi profesi, dan pelatihan berbasis keterampilan semakin diminati karena dinilai lebih cepat dan sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Fenomena ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi harus terus berinovasi agar tetap menjadi pilihan utama dalam pengembangan sumber daya manusia di era ekonomi berbasis kompetensi.
Solusi: Bukan Menghapus Kuliah, Melainkan Mentransformasikannya
Perubahan dunia kerja bukan berarti pendidikan tinggi kehilangan perannya. Yang perlu diubah bukanlah keberadaan kuliah, melainkan cara penyelenggaraannya agar lebih relevan dengan kebutuhan zaman. Perguruan tinggi harus bergeser dari orientasi gelar menuju pengembangan kompetensi, sehingga ijazah menjadi bukti kemampuan, bukan sekadar tanda kelulusan. Selain itu, pembelajaran perlu lebih banyak mengintegrasikan praktik, proyek nyata, studi kasus, dan pengalaman industri agar mahasiswa siap menghadapi dunia kerja.
Kolaborasi yang kuat antara kampus dan industri juga harus diwujudkan melalui kurikulum yang selaras dengan kebutuhan pasar, program magang yang berkualitas, serta keterlibatan praktisi dalam proses pembelajaran. Dengan langkah tersebut, pendidikan tinggi akan tetap menjadi sarana strategis dalam mencetak sumber daya manusia yang unggul, adaptif, dan berdaya saing. Sebaliknya, jika perguruan tinggi gagal beradaptasi, yang dipertaruhkan bukan hanya relevansi institusi, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap nilai dan manfaat pendidikan tinggi itu sendiri.
Referensi Utama
- Badan Pusat Statistik (2024–2025), Data Ketenagakerjaan Nasional
- Kompas (2024–2025), Pendidikan Tinggi & Pengangguran
- Organisation for Economic Co-operation and Development (2025–2026), Labour Market Statistics













