Menu

Dark Mode
PPM School of Management dan Yayasan Tarakanita Laksanakan Program Inkubasi Bisnis Bizcube Bank Jakarta Siap Bangun Biodigester Komunal Sampah Organik di Rusunawa Rorotan dan Rawa Badak Jakarta Utara Lebih Modern dan Dekat dengan Nasabah, Bank Jakarta Luncurkan bankjakarta.co.id Bank Jakarta Perkuat Kolaborasi dengan Persija Yamaha Rayakan Back to School, Ajak Anak Muda Menangkan Motor Gratis Fazzio Special Edition Sunset Blue Adaptasi, Kepemimpinan, Komunikasi dan Kemauan Belajar Menjadi Nilai di Perusahaan?

Opini

Trust lebih Penting daripada Angka, Dengarkan juga Nasihat SBY

badge-check


					Trust lebih Penting daripada Angka, Dengarkan juga Nasihat SBY Perbesar

Didik J Rachbini Ekonom Senior Indef dan Rektor Universitas Paramadina

Pasar modal terjungkal habis dan sudah mendekati krisis seperti di tahun 2008. Dari indeks 9200 turun drastis menjadi 5900.  Ini terjadi berbulan-bulan dan sekarang masih dianggap biasa saja dan kuang ada sense of crisis terhadap keadaan. Yang jatuh parah juga saham perbankan, seperti BCA turun nilainya lebih 50 persen karena investor asing kabur.

Ini menandakan adanya masalah yang sangat mendalam, yakni kepercayaan investor (trust) yang jatuh ke jurang tidak mau hadir lagi di pasar kita. Substansi penting di balik angka-angka tadi adalah masalah trust, yang belum hadir di pasar. Bank Indonesia yang bertanggung jawab pada  sektor moneter sudah mengguyur pasar dan menguras devisa tapi pasar dan investor tidak bergeming. Tetap saja pasar saham jatuh dan nilai tukar tetap melemah.  Sekarang kita menyaksikan bahwa  trust sudah jauh lebih penting dan. Lebih mendasar daripada angka.  Angka-angka pertumbuhan kita tidak terlalu buruk, begitu juga angka indikator perdagangan, tetapi karena kepercayaan jatuh, maka investor pergi. Sebaliknya, banyak negara memiliki defisit anggaran atau utang yang tinggi, tetapi mata uangnya tetap kuat karena investor percaya pada kredibilitas pemerintah dan institusinya.  Jadi, kepercayaan harus dibangun dan harus ada sikap “sense of crises” terhadap keadaan.

Sekarang pasar menunggu, apakah kebijakan ekonomi konsisten dan bisa dipercaya tidak akan berubah-ubah serta tidak dipengaruhi kelompok-kelompok interest politik ?  Pasar juga berhadap fiskal mutlak dan wajib dikelola secara hati-hati.  “Getting institution right”, apakah ini dijalankan dengan benar? Juga pasar berhadap lembaga negara yang independen bekerja dengan baik dan hadir sebagai lembaga  kredibel.

Yang juga dipersoalkan pasar,  apakah ada kepastian hukum di negeri ini dimana investasi dan hak privat dilindungi.  Jika semua masalah dari pertanyaan tadi bisa dijawab, maka kepercayaan akan hadir, pasar akan pulih, investor datang kembali, seperti Presiden Habibie menjalankannya pada masa krisis hebat dahulu.  Namun, ketika muncul keraguan terhadap aspek-aspek tersebut, premi risiko Indonesia naik dan investor meminta kompensasi yang lebih tinggi atau memilih keluar.

Sebagai pelajaran ketika saya menjadi anggota Tim Nasional Reformasi Presiden Habibie di bidang ekonomi (SK Presiden), demokrasi yang sehat mulai dibangun, tahanan politik dilepas, bank sentral yang independen dihadirkan, undang-undang monopoli dibuat untuk melawan monopoli dan oligarkhi. Hasilnya, nilai tukar menjadi kuat dari 16.800 rupiah menjadi 6.500 rupiah per dollar AS.

Presiden SBY selama ini dan  bertahun-tahun tidak pernah mau untuk mengutik-utik kebijakan pemerintah karena itu merupakan etika sebagai mantan presiden.  Biarkan pemerintah menyelesaikan sendiri persoalan yang dihadapinya.  Tetapi kali ini presiden SBY hadir demi bangsa dan memberikan saran yang lunak, yakni pulihkan Kepercayaan (Trust) Pasar. SBY selalu menekankan bahwa ekonomi tidak hanya soal angka fiskal dan moneter, tetapi utamanya soal kepercayaan.

Jika pasar melihat kepastian hukum, konsistensi kebijakan, tata kelola pemerintahan yang baik, dan komunikasi pemerintah yang kredibel, maka kepercayaan lambat laun akan pulih.  Jika tidak, kita akan melihat sebaliknya, trust menurun, modal cenderung keluar dari pasar keuangan, permintaan valas meningkat, dan tekanan terhadap rupiah membesar.  Itulah yang terjadi saat ini, rupiah tergerus, indeks saham jatuh.

Pasar juga akan melihat secara detail, yakni bagaimana kebijakan fiskal.  Apbn adalah dokumen kepercayaan dan pengelolaannya akan membentuk persepsi pasar. Jika APBN dikelola tidak hati-hati, belanja negara meningkat tanpa kendali, DPR hanya yesmen, banyak program baru dengan kebutuhan dana besar tidak dievaluasi, maka pasar tidak akan percaya dan cenderung menjauh dari Indonesia. Pasar akan percaya jika pengelolaan APBN terukur, terkendali dan prosesnya dijalankan dengn baik dan sahih di parlemen, penerimaan kredibel dan defisit terukur.

Yang terjadi sekarang, sudah sangat terang benderang terlihat.  Masalah trust menjadi titik pangkal masalah walaupun dipicu oleh krisis global sebelumnya. Karena masalah kepercayaahn, investor asing bereaksi spontan mengurangi eksposur.  Inilah yang menyebabkan indeks terjungkal.  Mereka sudah untung selama ini, daripada berat risikonya ke depan maka lebih baik keluar.  Permintaan dolar naik dan otomatis rupiah melemah.  Untuk mengatasi hal ini, kepercayaan harus dibangun kembali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Pertumbuhan Semu 5,61% di Tengah Loyonya Rupiah dan IHSG : Ujian Berat Pengambilan Keputusan Ekonomi Kabinet Prabowo

12 June 2026 - 14:39

Masih Perlukah Kuliah di Era Skill-Based Economy?

11 June 2026 - 13:40

Cermin Mengapa & Bagaimana Habibie bisa Mengubah Nilai Tukar dari 16.800 rupiah menjadi 6500 rupiah per US Dollar

19 May 2026 - 17:03

Dari Coding ke Kehidupan: Peran Ilmu Komputer dalam Transformasi Kesehatan

19 May 2026 - 16:23

Ketika IKN Masuk dalam Pembahasan Manajemen Krisis

6 May 2026 - 13:33

Trending on Opini