Menu

Dark Mode
Pramono Dorong Investasi Singapura untuk MRT Fase 3 dan Transformasi Jakarta ‘go’ Global Rehabilitasi Terumbu Karang di Perairan Pulau Hanita, Manggarai Barat Pertumbuhan Semu 5,61% di Tengah Loyonya Rupiah dan IHSG : Ujian Berat Pengambilan Keputusan Ekonomi Kabinet Prabowo Pengalaman Transaksi Modern Bersama Bank Jakarta dan BliBli di Jakarta Fair 2026 Bank Jakarta Hadir di Hall C1 Anjungan Pemprov DKI di Jakarta Fair 2026 Masih Perlukah Kuliah di Era Skill-Based Economy?

Opini

Konsistensi di Garis Konstitusi: Menakar Jejak Bungas T. Fernando Duling

badge-check


					Bungas T. Fernando Duling. Perbesar

Bungas T. Fernando Duling.

Oleh Cak Sentot, Budayawan

​​Dalam riuh rendah transformasi politik Indonesia, sedikit sosok yang mampu menjaga napas perjuangannya tetap selaras dengan naskah asli pendiri bangsa. Salah satu nama yang konsisten muncul dalam diskursus ekonomi kerakyatan adalah Bungas T. Fernando Duling.

​Bagi Fernando Duling, politik bukan sekadar sirkulasi kekuasaan, melainkan alat untuk mengoperasikan Pasal 33 UUD 1945 ke dalam realitas hidup rakyat jelata.

Dari Jalanan Menuju Pengorganisiran Akar Rumput

​Jejak langkahnya dimulai sebagai Aktivis 98, sebuah generasi yang mendobrak kebuntuan demokrasi. Namun, pasca-Reformasi, ia tidak memilih jalan instan.

Ia justru masuk ke ceruk-ceruk perjuangan yang lebih teknis dengan mendirikan Komite Aksi Rakyat Teritorial (KARAT) dan menjadi Sekretaris Jenderal Advokasi Rakyat untuk Nusantara (ARUN).

​Di sana, ia berhadapan langsung dengan konflik agraria dan pembelaan hak rakyat atas tanah.

Melalui wadah KOMANDO (Konsolidasi Mahasiswa Nasional Indonesia), ia juga memastikan bahwa regenerasi aktivisme mahasiswa tetap memiliki kompas yang jelas: membela yang lemah dan menjaga kedaulatan Nusantara.

​Membumikan Pasal 33: Bukan Sekadar Jargon

​Konsistensi Fernando Duling erhadap Pasal 33 UUD 1945 paling nyata terlihat dalam keterlibatannya pada sektor-sektor strategis nasional.

Dalam sebuah artikel opini di media nasional, beliau pernah menekankan sebuah poin krusial yang menjadi landasan geraknya:

​”Kedaulatan ekonomi tidak akan pernah tercapai selama rantai pasok pangan dan logistik kita masih dikuasai oleh segelintir oligarki. Negara harus hadir sebagai dirigen, memastikan bumi, air, dan kekayaan alam dikelola oleh rakyat, untuk rakyat, melalui sistem koperasi dan BUMN yang sehat.”

​Poin spesifik mengenai “Kedaulatan Rantai Pasok” inilah yang ia bawa saat dipercaya menjadi PIC TKN GOLF yang membidangi Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan. Ia tidak melihat sektor ini sebagai komoditas politik, melainkan jantung pertahanan negara.

​Sinergi Logistik dan Kebutuhan Dasar

​Kepercayaan negara menjadikannya Komisaris KAI Logistik semakin mempertegas perannya dalam menyambungkan mata rantai ekonomi.

Beliau menyadari bahwa distribusi yang mahal adalah musuh utama Pasal 33. Maka, logistik harus berpihak pada efisiensi distribusi hasil bumi rakyat.

​Kini, sebagai Mandatori Ketua Aliansi Yayasan MBG Nusantara, ia memegang peran kunci dalam implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Di sini, gagasan beliau tentang kedaulatan pangan diuji: bagaimana serapan bahan baku program tersebut harus berasal dari petani dan peternak lokal. Ini adalah hilirisasi ekonomi rakyat dalam bentuk yang paling nyata.

​Integritas yang Teruji

​Perjalanan dari aktivis jalanan, pendiri organisasi advokasi, hingga menduduki kursi strategis di BUMN dan tim kebijakan nasional menunjukkan satu garis lurus yang tidak putus: Keberpihakan pada ekonomi konstitusional.

​Bungas T. Fernando Duling adalah pengingat bagi kita semua, bahwa setinggi apa pun posisi seseorang, konstitusi terutama Pasal 33 UUD 45 adalah harga mati yang harus diperjuangkan demi kemakmuran yang tidak hanya dinikmati oleh segelintir orang, tapi oleh seluruh rakyat Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Pertumbuhan Semu 5,61% di Tengah Loyonya Rupiah dan IHSG : Ujian Berat Pengambilan Keputusan Ekonomi Kabinet Prabowo

12 June 2026 - 14:39

Masih Perlukah Kuliah di Era Skill-Based Economy?

11 June 2026 - 13:40

Trust lebih Penting daripada Angka, Dengarkan juga Nasihat SBY

6 June 2026 - 19:09

Cermin Mengapa & Bagaimana Habibie bisa Mengubah Nilai Tukar dari 16.800 rupiah menjadi 6500 rupiah per US Dollar

19 May 2026 - 17:03

Dari Coding ke Kehidupan: Peran Ilmu Komputer dalam Transformasi Kesehatan

19 May 2026 - 16:23

Trending on Opini