INDUSTRIINDONESIA.ID, JAKARTA – Memanasnya konflik di timur tengah, membuat khawatir seluruh Negara di dunia. Meskipun konflik terjadi di satu wilayah, namun imbas dari konflik peperangan di timur tengah dinilai akan berimbas ke beberapa sector di dunia.
Bahan baku material yang digunakan dalam rangka pertumbuhan infrastuktur di tanah air, diprediksi akan mengalami kenaikan hal ini tidak terlepas dari kebutuhan bahan baku material yang berasal dari impor.
Perusahaan plat merah, PT Hutama Karya (Persero) menilai kondisi global yang tengah terjadi belakangan ini dapat berdampak terhadap harga material konstruksi. Konflik yang terjadi membuat Hutama Karya harus mengambil antisipatif, dengan melakukan kajian dan menyusun perencanaan kembali terhadap beberapa aspek.
Tak dapat dipungkiri, kondisi global akibat konflik yang terjadi mengakibatkan rupiah anjlok ke level Rp 16.000 per dolar AS. Belum lagi adanya tren kenaikan harga minyak.
Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan PT Hutama Karya, Adjib Al Hakim menyatakan pelemahan kurs rupiah hingga kenaikan harga minyak bisa berdampak terhadap harga material konstruksi.
“(Dengan kondisi tersebut) diharapkan dapat dilakukan penyesuaian nilai kontrak maupun pengoptimalan penggunaan material, baik untuk kontrak baru yang didapat dan proyek yang sedang berjalan hingga akhir tahun ini,” kata Adjib, dikutip dari Kontan.co.id.
Adjib tak menampik, bila biaya material naik, pihaknya akan melakukan proses penambahan kontrak (addendum) kerja bila diperlukan, sehingga proyek yang tengah digarap tetap berprogres sesuai target.
“Saat ini sedang dilakukan kajian dan perencanaan kembali terhadap beberapa aspek, di antaranya struktur pembiayaan yang tentunya akan berdampak pada profitabilitas proyek,” pungkasnya.













