Menu

Dark Mode
Pramono Dorong Investasi Singapura untuk MRT Fase 3 dan Transformasi Jakarta ‘go’ Global Rehabilitasi Terumbu Karang di Perairan Pulau Hanita, Manggarai Barat Pertumbuhan Semu 5,61% di Tengah Loyonya Rupiah dan IHSG : Ujian Berat Pengambilan Keputusan Ekonomi Kabinet Prabowo Pengalaman Transaksi Modern Bersama Bank Jakarta dan BliBli di Jakarta Fair 2026 Bank Jakarta Hadir di Hall C1 Anjungan Pemprov DKI di Jakarta Fair 2026 Masih Perlukah Kuliah di Era Skill-Based Economy?

Pengembangan SDM Industri

Kemandirian Industri Pertahanan Nasional Melalui Kolaborasi SDM Unggul

badge-check


					Kemandirian Industri Pertahanan Nasional Melalui Kolaborasi SDM Unggul Perbesar

INDUSTRIINDONESIA, JAKARTA — Sumber Daya Manusia (SDM) kembali ditegaskan sebagai faktor strategis dalam mewujudkan kemandirian industri pertahanan nasional. Hal ini mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Dukungan Sumber Daya Manusia untuk Industri Pertahanan Nasional” yang digelar oleh Forum Komunikasi Industri Pertahanan (Forkominhan) bersama mitra strategis lintas kementerian, perguruan tinggi, serta pelaku industri pertahanan, beberapa waktu lalu di Bogor, Jawa Barat.

FGD ini menyoroti pentingnya penguatan ekosistem SDM yang tidak hanya andal secara akademik, tetapi juga memiliki kompetensi praktis dan mindset inovatif.

Fajar Harry Sampurno, Ph.D selaku moderator membuka diskusi dengan mengungkapkan, penting untuk membangun sumber daya manusia, bukan sekedar hanya membangun Infrastruktur, untuk dapat menuju pada kemandirian Industri, khususnya Industri Pertahanan diperlukan SDM yang berkualitas dalam penguasaan teknologi ini.

“Yang dipentingkan bukan membangun infrastrukturnya dulu, tapi membangun sumber daya manusianya, mengacu pada pengalaman pembangunan strategis masa lalu, termasuk pengiriman puluhan insinyur untuk mendalami teknologi satelit Palapa dan energi nuklir,” tegas Harry Sampurno.

Menurutnya, sejarah mencatat bahwa pembangunan infrastruktur nasional strategis dimulai bukan dari jalan atau jembatan, melainkan dari pendidikan dasar hingga menengah di seluruh pelosok negeri.

“Kalau kita bicara industri strategis, SDM itu nomor satu. Tanpa SDM yang unggul, pembangunan industri hanya akan jadi slogan,” tambahnya saat memulai diskusi FGD.

Senada dengan itu, Kolonel Laut (T) Donny Mangara Nainggolan, S.T., MTr Opsla dari Direktorat Teknologi Industri dan Pertahanan, Kementerian Pertahanan (Kemhan) sebagai nara sumber pertama menekankan pentingnya integrasi lintas sektor untuk memperkuat SDM industri pertahanan.

“Ketersediaan talenta teknologi yang terbatas menjadi hambatan utama kemandirian industri pertahanan. Maka dibutuhkan ekosistem kolaboratif antara Kementerian, BUMN, akademisi, dan swasta,” ujarnya.

Kolonel Laut Donny juga menyebutkan pentingnya optimalisasi transfer teknologi dari kerja sama internasional yang diarahkan untuk memperkuat kapasitas SDM dalam negeri.

Dalam pemaparannya, Kolonel Donny menjelaskan bahwa penguatan SDM pertahanan harus mencakup diantaranya, Pemetaan kebutuhan SDM nasional, Pengembangan keahlian strategis seperti UAV, roket, avionik, siber, serta dapat mengoptimalisasi offset melalui program pendidikan dan pelatihan teknis.

Lebih jauh diskusi semakin dalam dengan paparan yang diberikan oleh nara sumber kedua oleh Dr. Ir. Romie Oktovianus Bura, B.Eng. (Hons.), MRAeS, Ph.D., yang memberikan perspektif tajam dan berani tentang urgensi perubahan cara pandang terhadap SDM pertahanan.

“Mindset kita masih menempatkan SDM di paling bawah. Padahal, setiap industri besar dibangun dari manusianya. Kalau kita mau naik kelas, harus ubah mindset itu,” ungkap Dr. Romie.

Pernyataan ini merupakan kritik terhadap kecenderungan menempatkan SDM sebagai prioritas rendah dalam pembangunan industri pertahanan.

Dr. Romie menekankan bahwa SDM adalah kunci keberhasilan, bahkan lebih penting daripada peralatan atau teknologi canggih. Selain itu Pendidikan harus berujung pada kompetensi dan pengalaman nyata, bukan hanya gelar. “Tanpa SDM yang kompeten, teknologi canggih pun tidak akan bisa dioperasikan atau dikembangkan,” jelasnya.

Dr.Romie juga mengingatkan bahwa penguasaan teknologi tidak bisa hanya diperoleh di ruang kuliah. “S1 atau S2 tidak cukup. Mereka harus diberi ruang untuk praktek nyata, untuk riset, untuk berbuat,” katanya.

Pendidikan harus berbasis praktik dan proyek yang menyatu dengan kebutuhan industri pertahanan nasional.
Lebih lanjut, Dr. Romie menekankan pentingnya menciptakan ekosistem inovasi triple helix, pemerintah, industri dan akademisi.

“Kita gagal bukan karena SDM kita lemah. Tapi karena tidak ada sistem yang menopang mereka untuk berkembang,” tegasnya.

Ia bahkan mengkritik kebijakan yang tidak memfasilitasi pengembangan SDM berbasis proyek jangka panjang, seperti dual use technology dan defense R&D berbasis kampus.

“Tanpa SDM yang ditempatkan sebagai aset strategis dan dibangun secara sistemik, industri pertahanan Indonesia akan terus bergantung pada luar negeri.” tutup Dr. Romie.

Pada akhirnya, FGD ini tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga panggilan untuk aksi konkret dalam mereformasi kebijakan SDM pertahanan. Dari para narasumber, muncul konsensus bahwa kolaborasi antarsektor, pembaruan regulasi, serta perubahan paradigma terhadap SDM adalah kunci menuju kemandirian dan kedaulatan teknologi pertahanan nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

PKPA Peradi Jakbar dan Ubhara Jaya Bekali 170 Peserta Keahlian Perancangan dan Analisa Kontrak

13 April 2026 - 15:07

Wali Kota Munjirin Dorong Program 1.000 Pramudi Mikrotrans Berdaya

3 April 2026 - 23:06

IPC TPK Kembali Dorong Kemandirian Generasi Muda Pesisir

27 February 2026 - 12:25

Talkshow #JAGARAGA : Tenaga Kerja Aman, Industri Nyaman

16 February 2026 - 10:55

Dukung Pendidikan Vokasi, TPK Semarang Salurkan Hibah 10 Unit Engine Caterpillar C6.6 ACERT

6 February 2026 - 19:52

Trending on Pengembangan SDM Industri