Menu

Dark Mode
Pramono Dorong Investasi Singapura untuk MRT Fase 3 dan Transformasi Jakarta ‘go’ Global Rehabilitasi Terumbu Karang di Perairan Pulau Hanita, Manggarai Barat Pertumbuhan Semu 5,61% di Tengah Loyonya Rupiah dan IHSG : Ujian Berat Pengambilan Keputusan Ekonomi Kabinet Prabowo Pengalaman Transaksi Modern Bersama Bank Jakarta dan BliBli di Jakarta Fair 2026 Bank Jakarta Hadir di Hall C1 Anjungan Pemprov DKI di Jakarta Fair 2026 Masih Perlukah Kuliah di Era Skill-Based Economy?

Opini

Daulat Rupiah adalah Daulat Negara

badge-check


					Ilustrasi Uang/Foto. Ist/Industriindonesia.id Perbesar

Ilustrasi Uang/Foto. Ist/Industriindonesia.id

Yudhie Haryono | Presidium Forum Negarawan

#Orang miskin adalah mereka yang tak banyak uang walaupun punya banyak barang. Orang jenius adalah mereka yang mencipta uang; orang cerdas mencari uang; sedang orang bodoh mencari pinjaman#

Inilah doktrin terbaru neoliberalisme. Jika ini dijadikan acuan maka, negeri ini miskin dan presiden kita “bodoh.”

Setelah lebih dari 10 tahun republik ini digempur narasi “daulat rupiah,” oleh ekonom-ekonom jenius kita, respon BI lumayan waras. Mereka menjawab dengan kegiatan festival rupiah berdaulat yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan peran pentingnya rupiah dalam sejarah bangsa, sekaligus menumbuhkan optimisme, semangat kebangsaan, dan memperkuat kedaulatan negara melaluinya.

Mestinya, pada uang kita dapati simbol perjuangan, alat tukar, alat perang, identitas diri/negara, alat ukur kekayaan dan representasi persatuan bangsa dari keberagaman budaya nusantara. Tetapi, yang terjadi kini sebaliknya. Sungguh kita dibuat malu karena rupiah kita justru menjajah warganegara.

Walau setidaknya, depresiasi rupiah (kehancuran uang kita) yang dahsyat dijawab dengan program ini. Harapannya ada tiga: Pertama, menimbulkan rasa memiliki dan mencintai bangsa dengan mengingat para pahlawan. Kedua, bangga bahwa rupiah pernah mendapat penghargaan sebagai uang terbaik di dunia sisi fiturnya yang aman. Ketiga adalah memahami rupiah yang memiliki cita-cita, alat menabung, dan belanja dengan cermat.

Di antara negara-negara Asean, mata uang rupiah termasuk yang lemah. Ia terus mengalami pelemahan secara terstruktur, masif dan sistematis. Sayangnya, proses depresiasi ini tidak tak dicarikan solusinya. Dalam konteks ekonometrik, “currency depreciation” atau depresiasi mata uang adalah hancurnya nilai tukar suatu mata uang terhadap mata uang lainnya atau terhadap standar tertentu dalam jangka waktu tertentu.

Depresiasi mata uang tentu saja merupakan penjajahan baru bagi negara postkolonial dan negara dengan ekonomi yang miskin karena kepemimpinannya lemah dan bodoh; defisit transaksi berjalan yang terus-menerus; serta tingginya tingkat inflasi; juga “patronase lokal” yang diimani para oligark serakah yang ganas.

Tetapi, proses ini jika dicek akan terlihat sangat terstruktur: memiliki motif, tujuan dan pola yang disusun, dirangkai, direkayasa, diatur, atau diciptakan secara rapi: tak mudah dibaca awam. Dalam artian suatu desain (rancangan) disebut terstruktur ketika punya pola jelas sehingga dapat diruntut atau ditelusuri oleh para jenius.

Proses itu juga sangat sistematis karena langgamnya punya pasukan, barisan dan keteraturan yang solid, utuh, terpadu, saling terkait (menguatkan-melindungi) dari gabungan sejumlah komponen, pola, atau unsur yang saling mendukung dalam membentuk keutuhan sempurna sehingga sangat kuat dan tertradisi menjadi “kebenaran.”

Proses itu disempurnakan dengan sebesar dan sekuatnya menjadi masif. Di sini artinya gerakan yang kokoh, berjumlah banyak/besar, dan super padat sehingga seluruh komponen atau unsur di dalamnya tidak keropos, berongga, rapuh dan tidak tak terbunuh.

Akibatnya tak banyak yang tahu bahwa perang dagang pasti ujung tombaknya adalah perang mata uang. Bahkan perang kedaulatan itu sesungguhnya perang mata uang. Jika mata uang suatu negara kuat, maka kuatlah kedaulatan negara tersebut dan bahkan bisa menjajah negara lain. Demikian pula sebaliknya.

Sesungguhnya, perang mata uang adalah perang ekonomi sekaligus perang dagang dunia. Fakta bahwa ini adalah perang terlihat dari persaingan negara imperial (penjajah-perampok) melemahkan nilai mata uangnya ke level terendah lalu menaikkannya pada top level. Hal ini dilakukan agar produk-produk yang mereka hasilkan bisa laku dan terjual di negara lain. Dalam sejarah dunia, perang mata uang ini sudah sering terjadi sejak 100 tahun lalu.

Tentu saja, negara dengan ekonomi-industri yang kuat akan kuat uangnya sehingga mampu menegaskan kedaulatannya dan memiliki kekuatan untuk memaksakan hegemoni dan pengaruhnya. Negara kuat pasti dinahkodai oleh pemimpin yang kuat, ekonom yang jenius dan elite yang paham geo-ekopolitik dunia.

Sebaliknya, saat negara diisi oleh pemimpin lemah dan bodoh, semua masa depannya diserahkan ke pasar. Lalu, nilai tukar uangnya dibuat mengambang karena ditentukan oleh pasar. Padahal, bank sentral dan kementrian keuangan bisa kolaboratif merekayasa mata uangnya menjadi alat yang “mengkayakan” sekaligus “mendaulatkan” negaranya.

Dus, untuk melihat kedaulatan sebuah negara, bisa dilihat pada kemampuan elitenya meletakkan uangnya sebagai apa: sekedar alat tukar atau alat pendaulat. Cermati, jika ekspornya menjadi lebih mahal, dan impornya menjadi lebih murah, berarti mereka kalah. Cepat ganti dengan yang lebih jenius dan patriotis. Itu saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Pertumbuhan Semu 5,61% di Tengah Loyonya Rupiah dan IHSG : Ujian Berat Pengambilan Keputusan Ekonomi Kabinet Prabowo

12 June 2026 - 14:39

Masih Perlukah Kuliah di Era Skill-Based Economy?

11 June 2026 - 13:40

Trust lebih Penting daripada Angka, Dengarkan juga Nasihat SBY

6 June 2026 - 19:09

Cermin Mengapa & Bagaimana Habibie bisa Mengubah Nilai Tukar dari 16.800 rupiah menjadi 6500 rupiah per US Dollar

19 May 2026 - 17:03

Dari Coding ke Kehidupan: Peran Ilmu Komputer dalam Transformasi Kesehatan

19 May 2026 - 16:23

Trending on Opini