INDUSTRIINDONESIA.ID, JAKARTA – Perekonomian dunia terus menggeliat, terlebih dengan terjadinya suhu memanas di wilayah timur Tengah akibat perang. Pasca libur hari raya, Indonesia dihadiahi dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Yang mana, pada Selasa (16/4), rupiah spot melemah 2,27% ke level Rp 16.200 per dolar AS. Ini juga menjadi level terburuk rupiah sejak April 2020.
Menguatnya nilai tukar dolar diungkapkan Kepala Departemen Pengelolaan Moneter (DPM) BI Edi Susianto, periode libur Lebaran terdapat perkembangan di global dimana rilis data fundamental AS makin menunjukkan bahwa ekonomi AS masih cukup kuat seperti data inflasi dan retail sales yang di atas ekspektasi pasar.
Terkait dengan menguatnya nilai tukar dolar, tentu membuat berbagai pihak harus putar otak, salah satunya para pelaku usaha di industri Farmasi di tanah air.
Direktur Eksekutif Gabungan Perusahaan (GP) Farmasi Elfiano Rizaldi menilai, dampak pelemahan rupiah bagi industri farmasi sangat bergantung dari seberapa lama tren koreksi mata uang tersebut berlangsung.
Dirinya menegaskan, bagaimana pasca libur Lebaran atau hingga bulan depan rupiah tidak berhenti melemah, jelas industri farmasi nasional akan terancam.
Maklum saja, hampir 90% bahan baku produk farmasi seperti obat-obatan masih harus diimpor dari luar negeri. Sejauh ini, baru ada belasan item bahan baku farmasi saja yang sudah bisa diproduksi di dalam negeri. Itu pun tidak sepenuhnya atau 100% memuat kandungan lokal mengingat kapasitas produksi farmasi nasional masih tergolong kecil.
“Alhasil, bahan baku farmasi di pasar domestik sebenarnya belum tentu lebih murah dibandingkan impor sekalipun kurs rupiah sedang melemah,” ungkap Elfiano, Senin (15/4), dilansir dari Kontan.
Meskipun secara umum, para produsen farmasi dapat menerapkan strategi hedging atau lindung nilai hingga menyesuaikan harga produk jadi di pasar ketika kurs rupiah melemah, namun demikian, implementasi strategi ini bergantung dari seberapa lama pelemahan rupiah berlangsung.
GP Farmasi juga menyebut, pada dasarnya para pelaku industri farmasi menginginkan kurs rupiah yang bergerak stabil dan tidak mudah volatil. Dengan begitu, para produsen farmasi dapat lebih mudah dalam membuat rencana bisnis, termasuk menghitung kebutuhan biaya impor bahan baku hingga memproyeksikan pendapatan ekspor produk farmasi.
“Kalau naik-turunnya nilai tukar terlalu cepat ini juga kurang bagus buat kelangsungan usaha, karena biar bagaimanapun ada plus-minusnya ketika rupiah berada di posisi sekarang,” pungkas Elfiano.













