Menu

Dark Mode
Pramono Dorong Investasi Singapura untuk MRT Fase 3 dan Transformasi Jakarta ‘go’ Global Rehabilitasi Terumbu Karang di Perairan Pulau Hanita, Manggarai Barat Pertumbuhan Semu 5,61% di Tengah Loyonya Rupiah dan IHSG : Ujian Berat Pengambilan Keputusan Ekonomi Kabinet Prabowo Pengalaman Transaksi Modern Bersama Bank Jakarta dan BliBli di Jakarta Fair 2026 Bank Jakarta Hadir di Hall C1 Anjungan Pemprov DKI di Jakarta Fair 2026 Masih Perlukah Kuliah di Era Skill-Based Economy?

Manufaktur & Kesehatan

Rupiah Melemah, Bagaimana Industri Farmasi Menjawab?

badge-check


					Rupiah Melemah, Bagaimana Industri Farmasi Menjawab? Perbesar

INDUSTRIINDONESIA.ID, JAKARTA – Perekonomian dunia terus menggeliat, terlebih dengan terjadinya suhu memanas di wilayah timur Tengah akibat perang. Pasca libur hari raya, Indonesia dihadiahi dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Yang mana, pada Selasa (16/4), rupiah spot melemah 2,27% ke level Rp 16.200 per dolar AS. Ini juga menjadi level terburuk rupiah sejak April 2020.

Menguatnya nilai tukar dolar diungkapkan Kepala Departemen Pengelolaan Moneter (DPM) BI Edi Susianto, periode libur Lebaran terdapat perkembangan di global dimana rilis data fundamental AS makin menunjukkan bahwa ekonomi AS masih cukup kuat seperti data inflasi dan retail sales yang di atas ekspektasi pasar.

Terkait dengan menguatnya nilai tukar dolar, tentu membuat berbagai pihak harus putar otak, salah satunya para pelaku usaha di industri Farmasi di tanah air.

Direktur Eksekutif Gabungan Perusahaan (GP) Farmasi Elfiano Rizaldi menilai, dampak pelemahan rupiah bagi industri farmasi sangat bergantung dari seberapa lama tren koreksi mata uang tersebut berlangsung.

Dirinya menegaskan, bagaimana pasca libur Lebaran atau hingga bulan depan rupiah tidak berhenti melemah, jelas industri farmasi nasional akan terancam.

Maklum saja, hampir 90% bahan baku produk farmasi seperti obat-obatan masih harus diimpor dari luar negeri. Sejauh ini, baru ada belasan item bahan baku farmasi saja yang sudah bisa diproduksi di dalam negeri. Itu pun tidak sepenuhnya atau 100% memuat kandungan lokal mengingat kapasitas produksi farmasi nasional masih tergolong kecil.

“Alhasil, bahan baku farmasi di pasar domestik sebenarnya belum tentu lebih murah dibandingkan impor sekalipun kurs rupiah sedang melemah,” ungkap Elfiano, Senin (15/4), dilansir dari Kontan.

Meskipun secara umum, para produsen farmasi dapat menerapkan strategi hedging atau lindung nilai hingga menyesuaikan harga produk jadi di pasar ketika kurs rupiah melemah, namun demikian, implementasi strategi ini bergantung dari seberapa lama pelemahan rupiah berlangsung.

GP Farmasi juga menyebut, pada dasarnya para pelaku industri farmasi menginginkan kurs rupiah yang bergerak stabil dan tidak mudah volatil. Dengan begitu, para produsen farmasi dapat lebih mudah dalam membuat rencana bisnis, termasuk menghitung kebutuhan biaya impor bahan baku hingga memproyeksikan pendapatan ekspor produk farmasi.

“Kalau naik-turunnya nilai tukar terlalu cepat ini juga kurang bagus buat kelangsungan usaha, karena biar bagaimanapun ada plus-minusnya ketika rupiah berada di posisi sekarang,” pungkas Elfiano.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Krakatau Osaka Steel Akan Tutup Usahanya, Industri Baja Nasional Tertekan

6 May 2026 - 13:50

Industri Kosmetik Jadi Pilar Ekonomi Tumbuh, Ini Kata Menteri Agus!

5 May 2026 - 07:37

Pentingnya Kualitas Istirahat dengan Tidur yang Berkualitas

1 April 2026 - 15:42

Dukung Mudik Sehat 2026 melalui Kampanye #HatiTakBerjarak, Radjak Hospital Purwakarta Siagakan Posko Kesehatan 24 Jam

18 March 2026 - 20:36

Radjak Hospital Salemba dan JGI Gelar Talk Show, Isu Kesehatan Ginjal Anak Jadi Pembahasan

8 March 2026 - 12:49

Trending on Manufaktur & Kesehatan