Menu

Dark Mode
Pramono Dorong Investasi Singapura untuk MRT Fase 3 dan Transformasi Jakarta ‘go’ Global Rehabilitasi Terumbu Karang di Perairan Pulau Hanita, Manggarai Barat Pertumbuhan Semu 5,61% di Tengah Loyonya Rupiah dan IHSG : Ujian Berat Pengambilan Keputusan Ekonomi Kabinet Prabowo Pengalaman Transaksi Modern Bersama Bank Jakarta dan BliBli di Jakarta Fair 2026 Bank Jakarta Hadir di Hall C1 Anjungan Pemprov DKI di Jakarta Fair 2026 Masih Perlukah Kuliah di Era Skill-Based Economy?

Agro & Tekstil

Potensi Durian Tinggi, Pertanian Durian Perlu Diarahkan ke Industrialisasi

badge-check


					Ilustrasi buah Durian, yang diminati pasar Tiongkok/pixabay/industriindonesia.id Perbesar

Ilustrasi buah Durian, yang diminati pasar Tiongkok/pixabay/industriindonesia.id

INDUSTRIINDONESIA, JAKARTA – Melihat negara Thailand, Indonesia sepertinya perlu belajar dalam menangani pertanian, khususnya di sektor produk Buah Durian.

Buah Durian tak pernah hilang di pasaran negaranya, pasalnya Thailand melakukan langkah frozenisasi saat Durian melimpah saat panen. Sehingga, masyarakatnya tak pernah kekurangan dalam mensuplay kebutuhan buah yang cukup diminati di pasar Asia Tenggara ini. Buah Durian di Negara Thailand dilakukan dengan sitem industrialisasi, sehingga Thailnad masuk dalam jajaran terbesar dalam mensuplay kebutuhan durian di pasaran, khususnya di wilayah Tiongkok.

Melihat potensi Buah Durian yang cukup besar di pasar Tiongkok, pemerintah dalam hal ini Kementerian Perdagangan menyebut, Indonesia sedang mengupayakan agar ekspor durian ke Tiongkok lebih dimaksimalkan lagi.

Kenaikan ekspor durian ke Tiongkok,  seperti yang disampaikan oleh Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Didi Sumedi, angkanya diperkirakan hingga 7 miliar dolar AS di tahun 2024 ini.

Dia juga mereview, nilai ekspor durian Indonesia ke Tiongkok di tahun 2022 mencapai USD4,5 miliar. Jumlahnya meningkat di tahun 2023 menjadi USD6,7 miliar.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Panjaitan, belum lama ini mengungkap, pemerintah berupaya mendorong ekspor durian ke China. Sebab, China merupakan importir terbesar durian asal Indonesia dengan nilai US$ 8 miliar per tahun atau setara Rp 130,04 triliun (kurs Rp 16.255).

Berdasarkan data  perdagangan China yang dikutip oleh Asosiasi Eksportir Importir Buah-Buahan dan Sayuran Sega Indonesia (Aseibssindo), setiap kenaikan 1% penduduk China yang mengonsumsi durian, maka itu akan mengerek nilai penjualan buah tersebut sebesar US$ 1,7 miliar atau setara Rp 27,63 triliun.

Dengan total nilai impor sebanyak US$ 8 miliar per tahun, itu artinya penduduk China yang mengkonsumsi durian belum mencapai 5%, sehingga potensi kenaikannya masih sangat besar.

Tiongkok adalah importir durian terbesar di dunia dengan sekitar 292 juta kg impor pada tahun 2016. Impornya telah meningkat secara signifikan selama dekade terakhir hingga 13,12% per tahun antara tahun 2006 dan 2016, yang mana Tiongkok menyumbang 60-80% impor global tergantung pada sumber datanya. Data perdagangan PBB menunjukkan angkanya 82% sementara peta perdagangan menunjukkan angka 66%.

Terkait potensi pasar durian yang terus melejit, Indonesia memiliki potensi yang cukup besar dalam budidaya durian. Selain memiliki produk khas lokal, durian import disinyalir dapat dikembangkan di tanah air.

Seperti yang disampaikan oleh Pengurus Harian Himpunan Pengusaha Kosgoro 57 Ody Yala Nugraha, jika melihat dari hitung-hitungan ekonomi beberapa produk pertanian di tanah air seperti Kelapa sawit, per Ha hanya menghasilkan ±Rp2jt per bulan. Untuk Padi/Gabah per Ha menghasilkan ±Rp.6jt per Panen. Sedangkan buah Durian per Ha mencapai ±Rp 400jt per tahun. Sungguh angka fantastis perbandingan hasil dari pertanian yang dihasilkan ketiga produk tersebut.

“Sektor pertanian perlu diarahkan ke arah industrialisasi jika ingin pertanian di tanah air maju dengan pesat. Meurut kami, industrialisasi merupakan jembatan utama menuju Indonesia Emas,” ujarnya saat dihubungi.

Lebih jauh dia menyampaikan, di tanah air sudah cukup banyak pelaku-pelaku yang berkebun durian. Namun, belum ada yang mengindustrialisasi Durian. Kita tidak bisa Eksport durian, hanya untuk kebutuhan dalam negeri. Amat disayangkan potensi yang besar ini hanya mengambil pasar local. Kita perlu mengambil contoh dari Thailand,” tegasnya.

Terkait isu permintaan Negara China untuk pengadaaan lahan tanaman Durian, Odi menyampaikan pandangannya, mengapa tidak pelaku-pelaku di Indonesia yang melakukan. China tahu kebutuhan permintaan buah durian di negaranya cukup besar dan tanah Indonesia memiliki potensi yang besar untuk  tanaman Durian.

“Kenapa bukan kita saja yang mengelola. Kembali saya tegaskan, pertanian di Indonesia perlu dilakukan langkah strategis, dan itu adalah industrialisasi,” katanya.

“Padi sudah harus dikelola dalam skala Industri, bukan lagi Konvensional. Petani yang punya lahan di bawah 1 ha harus merubah jenis tanamannya, jangan lagi padi. Tetapi tanaman yang nilai jualnya jauh lebih tinggi. Dengan begitu kesejahteraan Petani bisa meningkat,” tegasnya.

Belum Memaksimalkan Potensi Ekspor Durian

Seperti diketahui, sejauh ini, Indonesia belum memaksimalkan potensi ekspor durian. Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor durian dengan kode harmonized system (HS) 08106000 tercatat sebesar 226,67 ton pada 2022. Padahal, produksi durian di Indonesia pada tahun tersebut mencapai 1,58 juta ton.

Me-release dari laman youtube Science & Technology UI, disampaikan, perdagangan global buah Durian saat ini didominasi oleh dua negara. Thailand mendominasi ekspor dan Tiongkok mendominasi impor.

Berdasarkan peta perdagangan, dua eksportir buah durian terbesar pada tahun 2016 adalah Thailand dan Malaysia dengan masing-masing 403 juta kg dan 18 juta kg. Bersama-sama kedua negara ini menyumbang 99% ekspor global.

Meski Thailand dan Malaysia merupakan eksportir Durian terbesar, namun komposisi pasar keduanya cukup berbeda. Negara Thailand produksi Duriannya sebagian besar diekspor, sedangkan produksi di Malaysia dilakukan di dalam negeri.

Perdagangan global Durian dapat diukur dengan dua cara. Pertama melalui perdagangan buah mentah dan kedua melalui perdagangan produk akhir berbahan dasar durian.

Nilai eceran perdagangan buah durian, secara domestik dan internasional, dalam bentuk buah mentah (fresh, beku, pasta, dan pulp) diperkirakan memiliki nilai eceran lebih dari 15 miliar USD pada tahun 2016.

Dalam perkembangannya permintaan buah Durian di pasar global pada tahun 2030 secara konservatif diperkirakan akan tumbuh hingga lebih dari 25 miliar dolar AS, terutama didorong oleh permintaan Tiongkok.

Namun demikian, terkait produk akhir Durian, nilai perdagangan global sulit dipastikan karena terbatasnya ketersediaan data. Produk akhir durian meliputi segmen pasar makanan penutup, makanan ringan dan minuman, paslanya di pasar-pasar ini tidak diketahui, namun bila digabungkan di Asia, jumlahnya mencapai lebih dari 275 USD miliar per tahun dan terus bertambah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Kolaborasi CSR Perkuat Pertanian Kota

25 April 2026 - 13:54

Pemerintah Percepat Antisipasi Dinamika Global Terkait Industri TPT

22 April 2026 - 09:52

Perhutani Bandung Utara Terima PKL Mahasiswi Pasundan

9 March 2026 - 16:03

Industri Jamu Kita: Besar Jika Dikelola Dengan Benar

9 February 2026 - 17:46

Poktan “Niti Utomo” Desa Bolo Madiun Bertekat Produksi Pupuk Organik

27 January 2026 - 11:45

Trending on Agro & Tekstil