Menu

Dark Mode
Pramono Dorong Investasi Singapura untuk MRT Fase 3 dan Transformasi Jakarta ‘go’ Global Rehabilitasi Terumbu Karang di Perairan Pulau Hanita, Manggarai Barat Pertumbuhan Semu 5,61% di Tengah Loyonya Rupiah dan IHSG : Ujian Berat Pengambilan Keputusan Ekonomi Kabinet Prabowo Pengalaman Transaksi Modern Bersama Bank Jakarta dan BliBli di Jakarta Fair 2026 Bank Jakarta Hadir di Hall C1 Anjungan Pemprov DKI di Jakarta Fair 2026 Masih Perlukah Kuliah di Era Skill-Based Economy?

Agro & Tekstil

Pemerintah Percepat Antisipasi Dinamika Global Terkait Industri TPT

badge-check


					Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita/Foto. Humas/Industriindonesia.id Perbesar

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita/Foto. Humas/Industriindonesia.id

INDUSTRIINDONESIA, JAKARTA – Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional hingga saat ini masih beroperasi secara relatif stabil, meskipun dihadapkan pada dinamika global yang memengaruhi harga dan ketersediaan bahan baku. Terkait hal tersebut, pemerintah melalui Direktorat Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan telah melakukan langkah antisipatif.

“Kami terus mencermati fluktuasi harga bahan baku global yang berdampak pada industri TPT nasional, dengan memperkuat koordinasi untuk menjaga ketersediaan bahan baku dan kelancaran rantai pasok,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (21/4).

Dalam rapat koordinasi bersama asosiasi industri dan pelaku usaha, teridentifikasi bahwa tekanan utama saat ini berasal dari kenaikan harga bahan baku berbasis energi yang terjadi secara global. Harga paraxylene (PX) domestik, misalnya, mengalami kenaikan sekitar 40 persen mengikuti pergerakan harga internasional.

Di sisi lain, pasokan bahan baku kimia seperti monoethylene glycol (MEG) masih dalam kondisi aman hingga April, meskipun untuk periode setelahnya masih memerlukan pemantauan lebih lanjut.

Kenaikan harga tersebut secara alami berdampak pada struktur biaya di sepanjang rantai produksi, mulai dari industri hulu hingga hilir. Hal ini pun turut memengaruhi harga kain dan produk intermediate, serta biaya komponen pendukung seperti kemasan berbasis plastik.

Selain itu, dalam beberapa kasus juga ditemukan adanya penyesuaian pada aktivitas ekspor, termasuk retur barang akibat dinamika pasar global.

Namun demikian, industri nasional menunjukkan kemampuan adaptasi yang baik. Pelaku usaha tetap menjaga keberlangsungan produksi melalui pengelolaan stok, penyesuaian strategi pengadaan, serta penguatan koordinasi dengan pemasok bahan baku. Permintaan domestik juga masih menunjukkan aktivitas, sementara peluang ekspor tetap terbuka seiring dengan perubahan kondisi di negara pesaing.

Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Rizky Aditya Wijaya mengatakan, dalam penguatan struktur industri, keberadaan serat rayon sebagai produk berbasis sumber daya alam dalam negeri menjadi salah satu penopang penting dalam menjaga keseimbangan industri.

“Di tengah tekanan pada bahan baku berbasis petrokimia seperti polyester, pemanfaatan rayon yang diproduksi di dalam negeri memberikan alternatif bahan baku yang kompetitif sekaligus memperkuat kemandirian industri,” ujarnya.

Rizky menuturkan, sinergi antara serat alam dan serat sintetis ini menjadi bagian dari strategi adaptasi industri nasional dalam merespons dinamika global, sekaligus menjaga keberlanjutan produksi di sektor hilir.

Lebih lanjut, Rizky mengungkapkan, beberapa subsektor memang memerlukan perhatian lebih, khususnya industri yang bergantung pada bahan baku spesifik tanpa substitusi. Sebagai contoh, industri hygiene seperti popok (diapers) memiliki ketergantungan pada beberapa komponen utama, sehingga ketersediaan setiap bahan menjadi sangat krusial dalam menjaga keberlanjutan produksi.

Oleh karena itu, pemerintah bersama pelaku industri memandang periode saat ini sebagai fase penting untuk mengamati dampak lanjutan dari dinamika global ini. Langkah antisipasi terus dilakukan, termasuk melalui pemetaan komoditas bahan baku kritikal serta identifikasi potensi risiko secara dini, guna memastikan kesiapan industri menghadapi berbagai kemungkinan.

Sebagai bagian dari upaya penguatan respons kebijakan, Kemenperin tengah mengembangkan sistem monitoring terpadu untuk melakukan pemantauan dan analisis berbasis data secara real-time. Selain itu, berbagai opsi kebijakan juga tengah dikaji secara komprehensif, antara lain pemberian insentif fiskal untuk bahan baku strategis, dukungan efisiensi energi, serta penyesuaian kebijakan perdagangan untuk menjaga kelancaran pasokan.

Pemerintah juga menekankan pentingnya sinkronisasi kebijakan secara menyeluruh, baik dari sisi tarif, fasilitas fiskal, energi, maupun instrumen perdagangan, agar mampu mendukung keseimbangan rantai nilai industri dari hulu hingga hilir.

“Industri TPT kita memiliki fondasi yang kuat, baik dari sisi struktur, pasar domestik, maupun pengalaman menghadapi berbagai siklus global. Dengan langkah antisipatif yang terukur dan kolaborasi yang erat, kami optimis industri ini akan tetap tumbuh dan semakin resilien,” katanya.

Pemerintah bersama pelaku industri berkomitmen untuk terus menjaga stabilitas pasokan bahan baku, memperkuat daya saing industri, serta memastikan keberlangsungan produksi dalam jangka pendek maupun menengah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Kolaborasi CSR Perkuat Pertanian Kota

25 April 2026 - 13:54

Perhutani Bandung Utara Terima PKL Mahasiswi Pasundan

9 March 2026 - 16:03

Industri Jamu Kita: Besar Jika Dikelola Dengan Benar

9 February 2026 - 17:46

Poktan “Niti Utomo” Desa Bolo Madiun Bertekat Produksi Pupuk Organik

27 January 2026 - 11:45

‘TMI’ Dukung Presiden Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Pelanggar Usaha SDA

22 January 2026 - 09:25

Trending on Agro & Tekstil