INDUSTRIINDONESIA, PADANG – Sebagai komoditas andalan ekspor nasional, industri kelapa sawit perlu mendapat dukungan demi memenuhi kebutuhan pasar nasional dan global, salah satu dukungan tersebut dengan memaksimalkan sarana dan prasarana penunjang.
Pentingnya keberadaan sarana dan prasaran yang maksimal, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian menggandeng LPP Agro Nusantara, dengan memberikan pelatihan kepada para Pekebun Sawit, khususnya di wilayah Kabupaten Dharmasraya.
Sebagai ujung tombak, perkebunan dan lanskap bisnis kelapa sawit di Indonesia, pekebun sawit perlu memahami secara maksimal, apa itu safana dan prasarana dalam pertanian Kelapa Sawit.
Menjadi hal krusial, yang mana pengetahuan pekebun sawit selama ini hanya berbekal pengetahuan sexata turun temurun. Untuk itu perlu ada campur tangan profesional, sehingga para pekebun ini dapat memaksimalkan pengetahuan bertani mereka.
Melalui Data Rekomendasi Teknis, para
pekebun sawit di daerah penghasil sawit mendapat undangan untuk mendapatkan
pelatihan. LPP Agro Nusantara sebagai salah satu penyelenggara pelatihan mengadakan Pelatihan Pengelolaan Sarana Prasarana Perkebunan Kelapa Sawit Angkatan I.
Pelatihan ini diikuti 30 peserta yang berasal dari Kabupaten Dharmasraya. Diadakan di
The Axana Hotel, pelatihan ini berlangsung pada 29 Juli – 1 Agustus 2024 (4 hari).
Dalam pelatihan ini, para peserta mendapatkan materi berupa pembelajaran teori di kelas misalnya mengenai Kebijakan & Organisasi Sarpras Kebun, Penanganan Infrastruktur Kebun, Pengenalan Alat & Mesin Pertanian, Penggunaan Alat & Aplikasi Pestisida, Pengelolaan Tata Air, Penggunaan Alat & Aplikasi Pupuk, Penanganan Limbah B3, Pengelolaan Alat Panen & Angkut.
Peserta juga berkesempatan melaksanakan praktik di Kebun Ophir PTPN VI mengenai materi terkait dengan didampingi oleh pengajar dan narasumber yang berpengalaman dan kompeten di bidang tersebut.
Dalam keterangan tertulis, SEVP Operation LPP Agro Nusantara, Pugar Indriawan, menyampaikan bahwa secara
praktik, pekebun tentu sudah memiliki kemampuan yang biasanya diturunkan atau dilihat dari praktik pekebun lain.
“Tetapi praktik yang good dan precision belum tentu dimiliki. Praktik-praktik baik inilah yang menjadi sasaran pelatihan ini. Supaya pekebun tidak hanya menjalankan kebiasaan, tapi memahami hal apa yang sebaiknya dilakukan untuk memaksimalkan fungsi lahan,” ujar Pugar.
Ditemui digelaran pelatihan, perwakilan manajemen PT LPP Agro Nusantara Saptyaaji Harnowo, menyampaikan, salah satu sarana prasarana yang penting dalam menopang produktivitas perkebunan kelapa sawit adalah pentingnya jalan.
“Jalan yang merupakan salah satu sarana prasarana penting digunakan untuk banyak hal seperti pengangkutan peralatan dan bahan. Selain jalan, dibutuhkan juga sarana prasarana pendukung untuk pengawasan dan pemeriksaan pelaksanaan kegiatan pekerja,” ungkapnya.
Rutin dilaksanakan setiap tahun, program pelatihan yang disediakan BPDPKS dan
Ditjenbun terdiri dari jenis pelatihan teknis maupun non teknis (manajerial).
Dalam pelatihan, peserta tidak hanya mendapatkan materi tetapi juga praktik ideal yang bisa diterapkan di kebun masing-masing. Dengan desain ini, selain mendapat ilmu baru, kemampuan peserta juga meningkat baik dari segi bisnis dan skill sebagai pekebun.
Hal ini selaras sekaligus mendukung pemerintah dengan tujuan utama mengembangkan industri kelapa sawit yang berkelanjutan melalui peningkatkan produktivitas dan perbaikan pengelolaan perkebunan kelapa sawit.
Di tahun 2024 ini, BPDPKS dan Ditjebun menyelenggarakan 11 jenis pelatihan bagi total 6.437 orang peserta.
Dilaksanakan secara serempak, BPDPKS dan Ditjebun menggandeng 15 lembaga
pelatihan dan menyasar pekebun dari 14 provinsi di Indonesia. Dilihat dari total peserta, jumlah penerima manfaat program ini naik signifikan dari tahun sebelumnya.
Sebagai salah satu penyelenggara, LPP Agro Nusantara dipercaya menyelenggarakan 43 judul pelatihan dengan 11 jenis pelatihan. Secara total, LPP Agro Nusantara melatih sejumlah 1.339 peserta secara bertahap dalam periode April – September 2024.
Jumlah peserta ini merupakan 21% dari total Data Rekomendasi Teknis. Adapun wilayah pelaksanaan pelatihan ini diadakan di 7 provinsi yaitu: Riau, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah yang terdiri dari 11 kabupaten.













