Menu

Dark Mode
Pramono Dorong Investasi Singapura untuk MRT Fase 3 dan Transformasi Jakarta ‘go’ Global Rehabilitasi Terumbu Karang di Perairan Pulau Hanita, Manggarai Barat Pertumbuhan Semu 5,61% di Tengah Loyonya Rupiah dan IHSG : Ujian Berat Pengambilan Keputusan Ekonomi Kabinet Prabowo Pengalaman Transaksi Modern Bersama Bank Jakarta dan BliBli di Jakarta Fair 2026 Bank Jakarta Hadir di Hall C1 Anjungan Pemprov DKI di Jakarta Fair 2026 Masih Perlukah Kuliah di Era Skill-Based Economy?

Agro & Tekstil

Pentingnya Manajemen Keuangan, LPP Agro Nusantara Berikan Pembekalan Petani Sawit

badge-check


					Lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP) Agro Nusantara menggelar pelatihan Manajemen dan Administrasi Keuangan kepada para pekebun kelapa sawit swadaya dari Kabupaten Bengkayang di Harris Hotel Pontianak. Perbesar

Lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP) Agro Nusantara menggelar pelatihan Manajemen dan Administrasi Keuangan kepada para pekebun kelapa sawit swadaya dari Kabupaten Bengkayang di Harris Hotel Pontianak.

INDUSTRIINDONESIA, PONTIANAK – Manajemen keuangan menjadi hal rumit dalam melakukan pengelolaan aktivitas usaha, khususnya bagi pelaku usaha yang langsung terjun dalam produktivitas seperti halnya para petani sawit.

Begitu pentingnya manajemen keuangan bagi para petani sawit, Lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP) Agro Nusantara menggelar pelatihan Manajemen dan Administrasi Keuangan kepada para pekebun kelapa sawit swadaya dari Kabupaten Bengkayang di Harris Hotel Pontianak, Senin (12/8).

Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian mengadakan Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit.

Para peserta yang beruntung untuk mendapatkan pelatihan dilakukan melalui Data Rekomendasi Teknis, pekebun sawit di daerah penghasil sawit  yang selanjutnya mereka diundang untuk mendapatkan pelatihan.

Perwakilan manajemen LPP Agro Nusantara, Zulkifli Zein di Pontianak, mengatakan LPP bersama dengan BPDPKS memanfaatkan dana yang disisihkan dari ekspor sawit untuk menyelenggarakan pelatihan dalam beberapa tahun terakhir.

Dari sisi teknis, menurutnya para petani sebetulnya sudah khatam. Meski begitu, para petani kelapa sawit tetap memliki ruang dan kesempatan untuk perkembangan.

“Dari sisi teknis mungkin mereka tidak bermasalah. Tapi dari sisi mindset, konsep mengenai opportunity cost misalnya. Ini yang teman-teman petani harus mungkin lebih dibangkitkan, karena potensinya memang ada,” terangnya.

Pelatihan yang diikuti oleh 30 peserta dari Kabupaten Bengkayang ini, berlangsung selama 4 hari efektif. Mereka akan mendapatkan materi berupa pembelajaran teori di kelas misalnya mengenai Administrasi Keuangan, Pengelolaan Kredit (Pengajuan, Pengembalian), Penyusunan Proposal Usaha, dan sebagainya.

Peserta juga berkesempatan melaksanakan praktik di kelas mengenai materi terkait dengan didampingi oleh pengajar dan narasumber yang berpengalaman dan kompeten di bidang tersebut.

Dari sisi teknis, menurutnya para petani sebetulnya sudah khatam. Meski begitu, para petani kelapa sawit tetap memliki ruang dan kesempatan untuk perkembangan.

“Dari sisi teknis mungkin mereka tidak bermasalah. Tapi dari sisi mindset, konsep mengenai opportunity cost misalnya. Ini yang teman-teman petani harus mungkin lebih dibangkitkan, karena potensinya memang ada,” terangnya.

Pelatihan ini diikuti 30 peserta yang berasal dari Kabupaten Bengkayang. Diadakan di Hotel Harris Pontianak, pelatihan ini berlangsung selama 4 hari efektif.

Para peserta akan mendapatkan materi berupa pembelajaran teori di kelas misalnya mengenai Administrasi Keuangan, Pengelolaan Kredit (Pengajuan, Pengembalian), Penyusunan Proposal Usaha, dan sebagainya.

Peserta juga berkesempatan melaksanakan praktik di kelas mengenai materi terkait dengan didampingi oleh pengajar dan narasumber yang berpengalaman dan kompeten di bidang tersebut.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan provinsi Kalimantan Barat Heronimus Hero menyambut baik kegiatan pelatihan tersebut. Masyarakat menurutnya belum begitu menyadari tentang pentingnya analisis usaha tani.

“Mungkin karena kebiasaan mereka sudah menganggap bahwa lahan, tenaga kerja dan prasarana lain adalah milik pribadi, jadi hal itu tidak dihitung. Padahal jika hasil panen mereka kurang dari 20 ton per tahun, mereka sebetulnya merugi. Pendapatan mereka hanya sekitar Rp2 juta per bulannya,” terang Hero.

Hal inilah, kata Hero, yang berusaha didorong oleh pemerintah. Dengan adanya pelatihan itu diharapkan para peserta dapat memiliki pemahaman terhadap hal tersebut. Setelah itu, mereka dapat menyebarluaskan pengetahuan itu kepada komunitas mereka.

“Mudah-mudahan ini bisa menjadi dorongan agar pekebun sawit kita lebih berkelanjutan nantinya,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Kolaborasi CSR Perkuat Pertanian Kota

25 April 2026 - 13:54

Pemerintah Percepat Antisipasi Dinamika Global Terkait Industri TPT

22 April 2026 - 09:52

Perhutani Bandung Utara Terima PKL Mahasiswi Pasundan

9 March 2026 - 16:03

Industri Jamu Kita: Besar Jika Dikelola Dengan Benar

9 February 2026 - 17:46

Poktan “Niti Utomo” Desa Bolo Madiun Bertekat Produksi Pupuk Organik

27 January 2026 - 11:45

Trending on Agro & Tekstil