Menu

Dark Mode
Pramono Dorong Investasi Singapura untuk MRT Fase 3 dan Transformasi Jakarta ‘go’ Global Rehabilitasi Terumbu Karang di Perairan Pulau Hanita, Manggarai Barat Pertumbuhan Semu 5,61% di Tengah Loyonya Rupiah dan IHSG : Ujian Berat Pengambilan Keputusan Ekonomi Kabinet Prabowo Pengalaman Transaksi Modern Bersama Bank Jakarta dan BliBli di Jakarta Fair 2026 Bank Jakarta Hadir di Hall C1 Anjungan Pemprov DKI di Jakarta Fair 2026 Masih Perlukah Kuliah di Era Skill-Based Economy?

News

Pengamat: Dampak Ekonomi Pasca Kematian Ali Khomenei

badge-check


					Pengamat: Dampak Ekonomi Pasca Kematian Ali Khomenei Perbesar

INDUSTRIINDONESIA, JAKARTA – Pemimpin Tertinggi Iran Ali Hosseini Khamenei, dikabarkan tewas dalam serangan kolaborasi yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel di Teheran. Serangan yang tengah menewaskan pemimpin tertinggi Iran tersebut, tentu saja mengejutkan dunia. Terlebih dalam kekhawatiran dampak akibat tewasnya Ali Khamenei, terhadap ekonomi dan keamanan global ke depan.

Pengamat Militer Stanislaus Riyanta, menjelaskan, kematian pemimpin tertinggi Iran memiliki dampak yang cukup signifikan ke depan. Konflik terbuka ini memberikan dampak ekonomi sistemik melalui “Guncangan Selat Hormuz”.

Menurutnya, terkait dengan Krisis Energi dan Subsidi, yang bisa terjadi, mengingat Iran adalah produsen minyak besar, dan Selat Hormuz merupakan jalur bagi 20% pasokan minyak dunia.

“Jika jalur ini terganggu, harga minyak Brent diprediksi melonjak melampaui USD 120 per barel. Bagi Indonesia (importir neto minyak), hal ini akan membengkakkan subsidi BBM dalam APBN secara drastis, memaksa pemerintah memilih antara menaikkan harga BBM (yang berisiko memicu kerusuhan sosial) atau memangkas anggaran pembangunan,” ungkapnya melalui pesan Whatsapp saat dihubungi, Minggu (1/3/26).

Lebih jauh, dilihat dari sektor pangan dan logistik, inflasi akan terjadi pada sektor ini ke depan. Dia menjelaskan, kenaikan biaya energi akan langsung mempengaruhi biaya logistik.

“Kenaikan biaya energi akan langsung mengerek biaya logistik global. Indonesia yang masih bergantung pada impor bahan pangan dan bahan baku industri akan mengalami inflasi tinggi (cost-push inflation), menurunkan daya beli masyarakat bawah,” ungkapnya.

Dia juga menyampaikan, volatilitas pasar keuangan akan mengalami ketidakpastian. Bhan hal ini akan berpengaruh kepada masyarakat untuk melakukan safe haven, khususnya pada Dollar AS dan Emas.

“Ketidakpastian geopolitik mendorong aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar berkembang menuju safe haven seperti Dollar AS dan Emas. Rupiah bisa saja mengalami tekanan depresiasi hebat, yang memperberat biaya impor dan pembayaran utang luar negeri,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Rehabilitasi Terumbu Karang di Perairan Pulau Hanita, Manggarai Barat

13 June 2026 - 06:52

BGN Bermasalah, Saatnya Reformasi Kelembagaan BGN dan Tata Kelola MBG

6 June 2026 - 19:06

Kepala BGN Dicopot, “Terapi Kejut” Presiden Prabowo Perkuat Tata Kelola MBG

5 June 2026 - 22:04

217 Pengurus RT/RW di Kelurahan CBS, Ikuti Kegiatan Silaturahmi dan Penguatan Kelembagaan

12 May 2026 - 18:54

Wali Kota Jaktim Tekankan Kolaborasi Wujudkan Pendidikan Bermutu

4 May 2026 - 06:57

Trending on News