Menu

Dark Mode
PPM School of Management dan Yayasan Tarakanita Laksanakan Program Inkubasi Bisnis Bizcube Bank Jakarta Siap Bangun Biodigester Komunal Sampah Organik di Rusunawa Rorotan dan Rawa Badak Jakarta Utara Lebih Modern dan Dekat dengan Nasabah, Bank Jakarta Luncurkan bankjakarta.co.id Bank Jakarta Perkuat Kolaborasi dengan Persija Yamaha Rayakan Back to School, Ajak Anak Muda Menangkan Motor Gratis Fazzio Special Edition Sunset Blue Adaptasi, Kepemimpinan, Komunikasi dan Kemauan Belajar Menjadi Nilai di Perusahaan?

Uncategorized

Nilai Tukar Rupiah Melemah, Akan Berimbas Signifikan di Sektor Industri Ini

badge-check


					Ilustrasi keadaan politik di tanah air/redaksi/industriindonesia.id Perbesar

Ilustrasi keadaan politik di tanah air/redaksi/industriindonesia.id

INDUSTRIINDONESIA.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan terhadap dolar. Dari data Refinitiv pada Jumat (19/4) pukul 13.00 WIB, mata uang rupiah menyentuh Rp16.280 per dolar AS atau melemah 0,68%.

Ketegangan geopolitik Timur Tengah serta ekspektasi pasar yang mulai pudar akan pemangkasan suku bunga bank sentral AS Federal Reserve (The Fed), menjadi alasan mata uang rupiah ambruk.

Terkait pelemahan rupiah yang terus terjadi, sector industri tentu saja akan berakibat negative. Di sektor bahan baku, melemahnya nilai rupiah terhadap mata uang asing (USD, Yuan, dan lain-lain) akan berimbas terhadap naiknya bahan bangunan, begitu juga dengan produk-produk lainnya, yang mana bahan bakunya tergantung dari Import, hal ini disampaikan oleh Sekjend Asosiasi Industri Stainless Steel Indonesia, Ody Yala Nugraha, dalam pesan singkatnya, Jum’at (19/4)

Dia mengungkapkan, pabrik-pabrik di tanah air tak bisa dipungkiri masih bergantung kepada bahan baku import.

“Terutama di sektor Bahan Bangunan, Pupuk, dan lain-lain,” ungkapnya.

Dia menyampaikan, atas ambruknya nilai rupiah yang akan berimbas negative kepada produksi yang akhirnya akan berpengaruh terhadap perekonomian, pemerintah perlu mengambil langkah strategis dalam antisipasi dampak negatif.

“Diharapkan Pemerintah dapat melakukan tindakan Strategis untuk menstabilkan nilai rupiah terhadap mata uang asing,” ungkapnya.

Terkait dengan melemahnya rupiah, Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memantau situasi geopolitik dunia yang tengah bergejolak. Eskalasi geopolitik di wilayah Timur Tengah diwaspadai dapat berpengaruh terhadap Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya.

Konflik yang terjadi diperkirakan berdampak pada setidaknya tiga hal, yaitu peningkatan harga energi, peningkatan biaya logistik, dan penguatan nilai tukar Dollar Amerika Serikat (USD). Hal tersebut merupakan konsekuensi menjadi bagian dari perekonomian dan supply chain global.

Karenanya, pemerintah perlu menganalisa dan menyiapkan smart policy untuk memitigasi pengaruh terhadap sektor manufaktur di dalam negeri. Kemenperin juga akan segera melakukan koordinasi dengan para pelaku industri.

“Saat ini, Kemenperin telah memetakan permasalahan dan berupaya melakukan mitigasi solusi-solusi dalam rangka mengamankan sektor industri dari dampak konflik yang tengah terjadi,” kata Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Kamis (18/4).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Hidup Ikhlas Sebagai Warga Negara

24 April 2024 - 11:04

Trending on Uncategorized