INDUSTRIINDONESIA.ID, JAKARTA –
PT Bank BCA Syariah mencatat laba bersih Rp 183,7 miliar pada 2024, tumbuh 19,5 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Pencapaian ini menunjukan kinerja keuangan yang solid didorong oleh pembiayaan berkualitas, efisiensi operasional, dan komitmen terhadap pembiayaan berkelanjutan.
Presiden Direktur BCA Syariah, Yuli Melati Suryaningrum mengatakan, pertumbuhan positif sepanjang tahun 2024 merupakan hasil dari kemampuan perusahaan dalam mengakselerasi teknologi dan adaptasi layanan yang didukung oleh pengelolaan sumber daya manusia dan manajemen risiko yang baik.
“Pada 2024, aset kami tercatat sebesar Rp 16,6 triliun, dengan pertumbuhan 15 persen (yoy). Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 20 persen (yoy), dan pembiayaan kami tumbuh 19 persen (yoy), sementara rasio Non-Performing Financing (NPF) kami masih terjaga sangat baik di 1,5 persen,” ujar Yuli dalam kegiatan Media Update, Pemaparan Kinerja BCA Syariah 2024 – Evolve with Agility di Kantor Pusat BCA Syariah, Jakarta, Jumat (28/2/2025).
Menghadapi 2025, BCA Syariah optimistis mempertahankan pertumbuhan positif dengan target dua digit pada aset, DPK, dan pembiayaan. Perusahaan juga akan memperkuat kontribusi dalam pembiayaan berkelanjutan, terutama di sektor energi terbarukan dan pembangunan ramah lingkungan.
“Ke depan, kami akan terus mengembangkan portofolio pembiayaan hijau dan berkelanjutan, serta memastikan produk dan layanan kami memberikan nilai tambah yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga berdampak positif bagi masyarakat dan lingkungan,” kata Yuli.
Direktur BCA Syariah Pranata menjelaskan, pembiayaan yang disalurkan mencapai mencapai Rp10,7 triliun, tumbuh 18,9 persen yoy pada 2024. Dengan dengan pembiayaan komersial sebesar Rp 7,4 triliun (tumbuh 17 persen).
Fokus pada pembiayaan berkelanjutan juga terus diperkuat, sejalan dengan meningkatnya kesadaran akan dampak sosial dan lingkungan dalam aktivitas perbankan.
Di sektor Kegiatan Usaha Berkelanjutan (KUB), pembiayaan tumbuh 4,3 persen menjadi Rp 2,8 triliun. Sementara itu, pembiayaan hijau mencapai 26,4 persen dari total, dengan Rp 595 miliar dialokasikan untuk usaha ramah lingkungan.
“Pertumbuhan pembiayaan itu didorong oleh semua segmen baik komersial, UMKM, hingga konsumer,” ujarnya.
Lebih lanjut Pranata menyampaikan, aset BCA Syariah tumbuh 15 persen yoy ke angka Rp16,6 triliun pada tahun lalu. Kualitas
aset juga masih terjaga sebagaimana rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF) gross yang berada pada level 1,54 persen per 2024, naik tipis dari 1,04 persen pada 2023. NPF net berada pada angka 0,33 persen, berbanding 0,01 persen pada tahun sebelumnya.
Dari sisi simpanan, BCA Syariah telah menghimpun dana pihak ketiga (DPK) sebanyak Rp13,2 triliun, tumbuh 20,3 persen secara tahunan. Deposito tumbuh signifikan 21 persen ke angka Rp8,19 triliun.
Dana murah alias current account saving account (CASA) juga bertumbuh positif 19,4 persen yoy , terdiri dari tabungan yang naik 17,9 persen yoy menjadi Rp2,47 triliun; serta giro yang tumbuh 21 persen YoY hingga mencapai Rp2,51 triliun.
“BCA Syariah mampu menjaga komposisi CASA di 2024 sebesar 37,8 persen terhadap DPK,” ujar Pranata.
Terkait rasio kinerja lainnya, rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) BCA Syariah berada di posisi 79 persen pada 2024. Imbal aset alias return on asset (ROA) naik tipis 0,1 persen menjadi 1,6 persen, sedangkan imbal ekuitas (return on equity/ROE) naik 0,8 persen menjadi 5,9 persen.













