Menu

Dark Mode
Pramono Dorong Investasi Singapura untuk MRT Fase 3 dan Transformasi Jakarta ‘go’ Global Rehabilitasi Terumbu Karang di Perairan Pulau Hanita, Manggarai Barat Pertumbuhan Semu 5,61% di Tengah Loyonya Rupiah dan IHSG : Ujian Berat Pengambilan Keputusan Ekonomi Kabinet Prabowo Pengalaman Transaksi Modern Bersama Bank Jakarta dan BliBli di Jakarta Fair 2026 Bank Jakarta Hadir di Hall C1 Anjungan Pemprov DKI di Jakarta Fair 2026 Masih Perlukah Kuliah di Era Skill-Based Economy?

Agro & Tekstil

Batik Menunjukan Prospek Industri Lebih Menjanjikan

badge-check


					Ilustrasi Tekstil Indonesia/Redaksi/Industriindonesia.id Perbesar

Ilustrasi Tekstil Indonesia/Redaksi/Industriindonesia.id

INDUSTRIINDONESIA, JAKARTA – Di saat sektor tekstil tengah mengalami tekanan, sektor batik menunjukkan prospek industri lebih menjanjikan.

”Potensi pasar ekspor batik dan produk batik cukup menjanjikan, terlihat dari capaian nilai ekspor batik dan produknya sepanjang tahun 2023 yang mencapai 17,5 juta Dollar Amerika. Sedangkan semester pertama tahun ini saja sudah mencapai 9,45 juta Dollar Amerika berdasarkan hitungan BPS,” kata Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita dalam keterangannya, Jumat (27/9/2024).

Berdasarkan data terlihat nilai ekspor batik memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan nilai impornya. Tercatat pada tahun 2022, nilai ekspor sebesar 25,3 juta Dollar Amerika, sedangkan impor hanya sebesar 1 juta Dollar Amerika. Sementara di tahun 2021, nilai ekspornya sebesar 24 juta Dollar Amerika, sedangkan nilai impor sebesar 1,2 juta Dollar Amerika. Untuk tahun 2023 sendiri, nilai impor tercatat 800 ribu Dollar Amerika dan nilai ekspornya 17,45 juta Dollar Amerika.

“Kalau impor kita bingung nih, impor apa nih ya? Nah umumnya memang impor ini sudah dalam bentuk mungkin home decor-nya,” ucapnya.

Padahal sebagai negara pemilik warisan batik, Indonesia tidak seharusnya mengimpor batik. Namun Reni mengakui sulit untuk menghilangkan angka impor secara total. Upaya yang bisa dilakukan ialah lebih mengembangkan batik karena menyerap ratusan ribu tenaga kerja.

“Bisa dibayangkan, ketika kita tidak melakukan pelestarian batik ini, ada 5.946 industri kecil menengah dan ada 200.000 tenaga kerja, serta ada 200-an sentra yang tidak berlangsung, atau pelan-pelan akan kehilangan sumber daya, kehilangan mata pencaharian,” ucapnya lagi.

Salah satu ancaman, ungkapnya, berasal dari impor batik dari China. Walaupun, sejatinya bukan murni batik, melainkan hanya motif batik dalam bentuk tekstil. Meski demikian, jika penyerapan pada impor batik China ini besar, maka bisa mengganggu sentra-sentra batik dalam negeri.

“Tekstil motif batik pasti ada, tapi itu bukan batik. Itu pasti tekstil, kalau batik itu ada malam panas lilin, cat juga dililin, sesudah itu dicuci si malam supaya rontok. Kalau impor ini diminati jumlah besar pasti ganggu, karena memproduksi tapi konsumen tidak beli, lambat laun akan mati,” pungkasnya.(Vito Zabdiel)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Kolaborasi CSR Perkuat Pertanian Kota

25 April 2026 - 13:54

Pemerintah Percepat Antisipasi Dinamika Global Terkait Industri TPT

22 April 2026 - 09:52

Perhutani Bandung Utara Terima PKL Mahasiswi Pasundan

9 March 2026 - 16:03

Industri Jamu Kita: Besar Jika Dikelola Dengan Benar

9 February 2026 - 17:46

Poktan “Niti Utomo” Desa Bolo Madiun Bertekat Produksi Pupuk Organik

27 January 2026 - 11:45

Trending on Agro & Tekstil