INDUSTRIINDONESIA, MALANG – Mengingat semakin kompleksnya tantangan pergaulan remaja serta maraknya isu kekerasan seksual di media massa maupun lingkungan sekitar dalam kehidupan sehari-hari, Kelompok 10 Fisip Bakti Desa (FBD) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) mengambil langkah yang responsif terhadap tantangan pergaulan remaja dan isu kekerasan seksual.
Bertempat di MTsN 7 Malang, sebanyak 294 siswa kelas 8 yang antusias untuk mengikuti program edukasi interaktif dengan tajuk “BERDAYA” (Berani Edukasi Remaja untuk Diri yang Aman dan Berharga) pada Senin (20/7/2026).
Program BERDAYA ini dirancang secara khusus untuk membekali para remaja usia sekolah menengah pertama dengan pemahaman sex education yang komprehensif, aman, dan juga kontekstual.

Edukasi ini dinilai sangat mendesak dikarenakan mengingat usia remaja awal ini merupakan fase yang krusial untuk pencarian jati diri yang rentan terhadap pengaruh lingkungan sekitar maupun paparan informasi yang kurang tepat di media digital maupun lingkungan sekitar.
Dalam pelaksanaannya, Kelompok 10 FBD FISIP UB menghadirkan pemateri ahli yang membawakan materi dengan pendekatan yang inklusif dan ramah remaja untuk memberikan pemahaman yang akan berdampak secara jangka panjang.
Topik pembahasan dirancang secara sistematis, dimulai dari pengenalan body boundaries (batasan tubuh) untuk memahami batasan diri berupa tubuh, barang, privasi, dan perasaan, hingga perbedaan mendasar antara safe touch (sentuhan aman) dan unsafe touch (sentuhan tidak aman) yang dianalogikan seperti lampu lalu lintas dimana lampu merah berarti tidak aman, lampu kuning berarti tergantung situasi, dan lampu hijau berarti aman.
Tidak hanya itu, para siswa juga dibekali pemahaman mengenai pentingnya consent (persetujuan) dimana persetujuan ini diberikan secara sadar, sukarela, dan tanpa paksaan bukan karena takut, dipaksa, diancam, dan malu untuk menolak. Siswa juga dibekali keberanian untuk mengambil tindakan tegas berupa say no dan stop jika merasa terancam, serta mekanisme untuk go dan tell kepada pihak-pihak yang dipercaya. Menyikapi perkembangan teknologi, para siswa juga dibekali oleh keamanan saat bersosial media.
Selain itu, para siswa diperkenalkan dengan perbedaan dari relasi sehat (healty relationship) dan relasi tidak sehat (toxic relationship) dalam berbagai konteks yang ada. Pematerian ini juga diberikan dorongan untuk menjadi remaja yang berdaya yang pastinya siap untuk menyongsong masa depan bangsa.
Koordinator Desa Kelompok 10 FD FISIP UB, Hali Shaquille, menegaskan bahwa kehadiran program ini merupakan wujud nyata kepedulian mahasiswa terhadap isu-isu sosial yang berdampak langsung pada generasi muda.
“Melalui kegiatan ini, saya selaku koordinator desa mewakili seluruh panitia yang bertugas berharap seluruh peserta memperoleh wawasan yang bermanfaat dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Hali Shaquille pada pembukaan kegiatan.

Untuk mengukur tingkat pemahaman peserta secara obyektif, rangkaian acara ini diawali dengan pengerjaan pre-test dan post-test. Suasana ruang edukasi ini berubah menjadi sangat hidup dan interaktif saat memasuki sesi ice breaking “Kartu Mitos atau Fakta”. Lewat ice breaking ini, para siswa diajak untuk menguji serta meluruskan berbagai persepsi atau anggapan keliru terkait sex education yang sering beredar di masyarakat.
Menariknya, antusiasme siswa tidak berhenti pada pemateri saja. Sebagai bentuk internalisasi, Kelompok 10 FBD FISIP UB memfasilitasi pembuatan Pohon Komitmen. Pada sesi ini, ratusan siswa menuliskan janji dan tekad pribadi mereka pada lembaran sticky notes berwarna-warni. Catatan-catatan kecil tersebut kemudian ditempelkan bersama-sama pada sebuah kertas bergambar pohon besar.
Berbagai tulisan yang tertempel ini berisi komitmen kuat para siswa untuk berani menjaga diri, melindungi teman, serta menerapkan batasan fisik sesuai dengan edukasi yang telah diberikan.
Suasana haru sekaligus menguatkan menjadi puncak acara ketika seluruh peserta dipandu untuk melakukan aksi self hug. Sesi penutup ini dirancang sebagai bentuk simbolis pengakuan atas rasa berharga dalam diri (self-worth), bentuk apresiasi terhadap tubuh masing-masing, serta sikap saling menghargai sesama teman.
Melalui keberhasilan penyelenggaraan program “BERDAYA”, Kelompok 10 FBD FISIP UB berharap para siswa MTsN 7 Malang tidak hanya mampu membentengi diri dari potensi kekerasan seksual, namun juga siap menjadi agen perubahan yang sebaya dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan saling menjaga satu sama lain.













