INDUSTRIINDONESIA, JAKARTA – Dalam perhelatan Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan rasa optimisnya bahwa sektor manufaktur akan mampu mencapai target net zero emission lebih cepat dibandingkan target nasional.
“Komitmen pemerintah Indonesia dalam mencapai target net zero emission itu kan paling lambat tahun 2060. Namun, untuk sektor manufaktur, kami sudah tetapkan target net zero emission akan dicapai 10 tahun lebih cepat dibandingkan nasional. Jadi tahun 2050,” kata Menteri AGK dalam acara pembukaan IIMS 2026 di JIExpo Kemayoran Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Pernyataan ini bukannya tanpa alasan. Menteri AGK menyatakan telah memiliki roadmap dan strategi terukur untuk memastikan target tersebut tercapai.
“Kendaraan elektrifikasi merupakan salah satu solusi strategis untuk menurunkan emisi gas rumah kaca dan juga meningkatkan kualitas udara khususnya di kawasan perkotaan,” ujarnya.
Selain itu, ia menyebutkan adanya investasi pendukung, seperti PT HLI atau HLI Green Power yang bergerak di bidang industri baterai.
“Mereka memproduksi sel baterai atau baterai sel dengan kapasitas terpasang yaitu 10 GWh,” ujarnya lagi.
Selain itu, lanjutnya, pada segmen produksi baterai pack juga telah beroperasi beberapa perusahaan, antara lain PT Hyundai Energi Indonesia, PT International Chemical Industry, PT Gaution Green Energy Solutions Indonesia, dan PT Unified Advanced Battery Systems Indonesia.
Proyek terintegrasi lainnya, adalah kolaborasi antara usaha atau anak usaha holding BUMN industri dan pertambangan, yaitu MIND ID, PT Aneka Tambang (ANTAM), PT Industri Battery Corporation (IBC) serta perusahaan asal China Ningbo Contemporary Brund Legend Co. Ltd (CBL).
“Proyek ini memiliki total investasi dari hulu ke hilir yang mencapai 5,9 bilion Dollar Amerika atau sekitar Rp96 triliun,” kata Menteri AGK.
Dengan beroperasinya semua pabrik-pabrik tersebut, maka ekosistem baterai kendaraan listrik di Indonesia akan terintegrasi dan diperkirakan mampun mencatat perolehan nilai tambah ekonomi hingga 48 bilion Dolar Amerika atau sekitar Rp480 triliun.
“Dalam rangka mengakselerasi pengembangan dan penggunaan kendaraan rendah emisi karbon, Kemenperin telah meluncurkan program Low Carbon Emmisions Vehicle (LCEV) melalui peraturan Menteri Perindustrian tahun 2021. Tercatat sudah 15 perusahaan telah berpartisipasi dalam program LCEV ini dan telah memproduksi berbagai jenis kendaraan rendah emisi dengan catatan tambahan investasi sebesar Rp22,37 triliun,” pungkasnya.(Sheva)













