Menu

Dark Mode
PPM School of Management dan Yayasan Tarakanita Laksanakan Program Inkubasi Bisnis Bizcube Bank Jakarta Siap Bangun Biodigester Komunal Sampah Organik di Rusunawa Rorotan dan Rawa Badak Jakarta Utara Lebih Modern dan Dekat dengan Nasabah, Bank Jakarta Luncurkan bankjakarta.co.id Bank Jakarta Perkuat Kolaborasi dengan Persija Yamaha Rayakan Back to School, Ajak Anak Muda Menangkan Motor Gratis Fazzio Special Edition Sunset Blue Adaptasi, Kepemimpinan, Komunikasi dan Kemauan Belajar Menjadi Nilai di Perusahaan?

Dikbudristek & Infrastruktur

Ketum Asprindo Sebut Sabang Dapat Lampaui Singapura Jika Didukung Ini

badge-check


					Ketum Asprindo Sebut Sabang Dapat Lampaui Singapura Jika Didukung Ini Perbesar

INDUSTRIINDONESIA, JAKARTA – Pengembangan Sabang dinyatakan sebagai salah satu kunci penting untuk meningkatkan pendapatan negara dan mengurangi impor BBM, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Namun, untuk memastikan pengembangan Sabang dapat dilakukan, pemerintah daerah Aceh harus memastikan adanya infrastruktur, ekosistem, SDM, dan suplai energi yang memadai untuk menopang semua aktivitas perekonomian.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo), Jose Rizal menyampaikan, secara geopolitik, Sabang posisinya lebih “depan” dari Singapura untuk Selat Malaka.

“Tapi keunggulan lokasi saja tidak cukup kalau infrastruktur dan ekosistemnya belum jadi. Termasuk juga, harus dipastikan kecukupan energi untuk mendukung infrastruktur yang ada,” kata Jose pada awak media.

Ia menjelaskan, jika ditinjau secara geografis, Sabang memiliki banyak kelebihan dibandingkan Singapura. Seperti posisi Sabang yang tepat di ujung Indonesia dan berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Berbeda dengan Singapura yang lebih masuk ke dalam Selat, sekitar 50 kilometer. Ditambah, perairan Sabang memiliki kedalaman 20 hingga 40 meter yang memungkinkan kapal 300 ribu DWT bersandar tanpa harus melakukan pengerukan secara berkala.

“Namun, Singapura memiliki aturan yang stabil, yang dibutuhkan oleh pelaku usaha, yang memberikan kepastian hukum dan risiko yang kecil. Ini lah yang belum dimiliki oleh Sabang. Selain itu, Sabang pun belum memiliki industri keuangan, fasilitas penunjang pelabuhan, dan SDM,” ujarnya.

Jose menegaskan, Sabang tak perlu meniru Singapura, untuk berkembang menjadi salah satu hub industri skala dunia. Tapi yang perlu dilakukan adalah memastikan apa yang belum disediakan Singapura, tersedia di Sabang.

“Sabang harus melakukan spesialisasi. Jangan lawan Singapura head-to-head. Ambil ceruk pasar, yang tidak dimiliki oleh Singapura. Jangan mimpi jadi Singapura, tapi jadilah pelengkap Singapura. Targetnya, dalam 5 atau 10 tahun mendatang, Sabang sudah mampu mengambil sekitar 20 persen dari trafik Singapura,” ujarnya lagi.

Misalnya, Sabang bisa menjadi lokasi bunker dan logistik kapal perikanan. Menurut data, setidaknya ada 3.000 kapal ikan asing lewat Selat Malaka. Dengan harga mahal dan ketatnya Singapura, maka Sabang bisa jadi “SPBU” dan pasar mereka.

Atau, Sabang bisa menjadi hub kapal pesiar halal, dimana para wisatawan Timur Tengah yang menginginkan kapal pesiar yang menerapkan kebijakan non alkohol, makanan halal, dan ketersediaan masjid.

“Sabang juga bisa menjadi lokasi transshipment semen, batu bara, hingga CPO. Karena ada komoditas curah India-Bangladesh-Afrika yang tidak butuh kecepatan Singapura tapi butuh biaya murah. Selain itu, Sabang juga bisa menjadi pangkalan militer dan SAR untuk Selat Malaka. Indonesia bisa membangun kerjasama keamanan dengan India, Australia, UEA untuk naval base,” kata Jose.

Namun, untuk memastikan para investor mau datang ke Sabang, ia menyatakan pemerintah pusat dan daerah harus memastikan adanya beberapa hal.

Pertama, kepastian hukum BPKS 30 tahun, dengan membuat UU khusus untuk Sabang, seperti halnya di Batam.

“Tidak boleh aturannya diubah tiap ganti bupati atau gubernur. Investor butuh kepastian dalam menjalankan usahanya. Pemerintah juga harus memastikan BPKS, Pemko Sabang, Kemenhub, Pelindo harus berkolaborasi di bawah satu komando,” ungkapnya.

Pemerintah juga harus menyediakan energi listrik dan ketersediaan internet dengan kecepatan tinggi. Ia menyatakan, pelabuhan modern akan menyedot listrik yang besar dan juga internet untuk memastikan praktik digitalisasi lancar. Tanpa itu semua, operasional pelabuhan seperti crane tidak akan jalan.

Untuk suplai listrik, ia menyebutkan salah satu alternatifnya adalah dengan membangun pembangkit tenaga listrik menggunakan geotermal di Sabang atau daerah terdekat dengan Sabang.

“Kenapa geothermal? Karena geotermal di Aceh melimpah. Hal ini juga sejalan dengan program pemerintah yang ingin melakukan transisi energi, dari energi fosil ke energi terbarukan.

Sebenarnya, pemerintah melalui Pertamina telah diberikan amanah untuk mengembangkan geothermal Seulawah sejak 15 tahun lalu, tapi tak juga dikerjakan. Jadi kalau sekarang kita minta, harusnya kan sudah ada studi dan kajiannya,” kata Jose lebih lanjut.

Ia menegaskan, jika pemerintah dengan serius mengembangkan Sabang seperti halnya Jurong Port Singapore, maka dalam 10 tahun kedepan, Indonesia akan bertumbuh perekonomiannya, sekaligus akan mengurangi impor minyak mentah dari Singapura.

“Kalau kita analogikan, Sabang itu tanah di pinggir jalan tol paling ramai di dunia. Tapi kalau tidak ada SPBU, restoran, pabrik, dan masih ada preman yang memalak, mobil mewah pun memilih lewat jalan lain,” pungkas Jose.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

PPM School of Management dan Yayasan Tarakanita Laksanakan Program Inkubasi Bisnis Bizcube

12 August 2026 - 21:28

Adaptasi, Kepemimpinan, Komunikasi dan Kemauan Belajar Menjadi Nilai di Perusahaan?

8 August 2026 - 13:53

Bank Jakarta Bersama Binus University Perkuat Kapabilitas SDM dalam Investasi Talenta Teknologi

8 August 2026 - 10:01

Implementasi IoT Pendeteksi Banjir dan Bank Sampah Digital untuk Meningkatkan Ketahanan Lingkungan dan Nilai Ekonomis Masyarakat

6 August 2026 - 21:09

Investasi Rp 1,9 Triliun, Medan Jadi Laboratorium Transformasi Bus Rapid Transit (BRT) Pertama di Luar Jakarta

5 August 2026 - 18:19

Trending on Dikbudristek & Infrastruktur