INDUSTRIINDONESIA, JAKARTA – Dunia pendidikan menjadi salah satu sektor yang mendorong para pelakunya untuk terus berinovasi khususnya demi kepantingan masyarakat luas dalam setiap inovasi yang dilakukan. Tumbuhnya industri tidak serta merta melupakan faktor lingkungan sebgaai wadah kehidupan makhluk di muka bumi. Seperti halnya bidang ilmu antropologi lingkungan, yang mengantar dosen Universitas Budi Luhur (UBL) menyandang gelar Profesor.
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah III, Prof. Dr. Toni Toharudin, S.Si., M.Sc., saat hadir dalam pengukuhan Prof. Dr. Prudensius Maring, MA, di Kampus UBL menyampaikan, bidang yang ambil Prof. Prudensius, adalah bidang ilmu antropologi lingkungan. Menurut Prof. Toni, bidang ini sangat relevan dengan tantangan dunia saat ini, bahwa hubungan antara manusia dan lingkungan adalah isu yang krusial di dalam menghadapi persoalan global.
“Katakan soal perubahan iklim. Ini kajian tentang bagaimana manusia beradaftasi dengan perubahan iklim. Itu sangat dibutuhkan untuk membangun sebuah kebijakan. Di samping itu, kearifan lokal di dalam pengelolaan lingkungan. Antropologi lingkungan membantu kita memahami nilai-nilai lokal yang bisa manjadi solusi di dalam menjaga keseimbangan pembangunan dan kelestarian alam,” ungkapnya.
Lebih jauh dia menjelaskan, ilmu Antropologi Lingkungan juga berperan di dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya lingkungan hidup yang sehat untuk generasi mendatang.
“Dalam hal ini, pemikiran dan penelitian dari Prof. Prudensius memiliki kontribusi yang sangat signifikan. Beliau tidak hanya berperan sebagai akademisi, tetapi juga sebagai seorang intelektual yang terus menggali solusi untuk tantangan lingkungan melalui pendekatan antropologi,” jelasnya.
Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul Tapak Antropologi Merajut Kolaborasi Mengurai Konfektologi Conflict Ecologi, Prof. Prudensius menyoroti tiga hal penting, yaitu gambaran tentang peta jalan dalam mengkaji antropologi, gambaran tentang kompleksitas paradigma pengelolaan sumber daya ekologi hingga implikasinya terhadap konflik dan kolaborasi serta gambaran kolaborasi sebagai pilihan jalan untuk menyelamatkan sumber daya ekologi demi keutuhan satu bumi kehidupan.
“Penelitian ini merupakan cara pandang saya terhadap permasalahan sumber daya alam/pertanian dari aspek pendekatan pembangunan pedesaan dan dimensi sosial lainnya untuk memperkaya basis pengetahuan pertanian yang selama ini saya kuasai,” tutur Prof. Prudensius.

Prof. Dr. Prudensius Maring, MA,/Foto. Dok. UBL/Industriindonesia.id
Menurut Prof. Prudensius, pengelolaan sumber daya alam bukan sekadar masalah teknis, berbagai permasalahan sosial justru menentukan keberhasilan atau kegagalan. Misalnya, terkait hak-hak dasar petani/masyarakat yang terhimpit, terbatasnya akses terhadap tanah, jerat fragmentasi tanah, ketimpangan dalam sistem penguasaan, kebijakan yang restriktif, dominasi pendekatan top-down dan koersif, revolusi hijau yang merusak benih, tindakan represif, trauma dan resistensi, memudarnya kolaborasi, serta meluasnya eskalasi konflik sumber daya alam.
“Terlihat pula bahwa berbagai permasalahan lingkungan yang terjadi selalu bersumber dari kontestasi dan perebutan kepentingan banyak pihak. Perebutan kepentingan yang kompleks antarpihak tidak saja melahirkan hubungan yang bernuansa kolaboratif, resistensi, dan konflik, tetapi juga menimbulkan bencana alam seperti banjir, tanah longsor, pandemi, dan kerusakan lingkungan akibat perilaku eksploitatif,” paparnya.
Prof. Prudensius berpendapat bahwa segala sistem penguasaan sumber daya alam dan cara penyelesaian permasalahan sosial berupa konflik dan resistensi selalu terkait dengan paradigma yang dianut oleh pemerintah/negara dan pemangku kepentingan lainnya.
“Saya memahami betapa banyak pihak yang memilih cara mereka sendiri untuk menyelamatkan sumber daya alam. Banyak pihak yang masih menolak pilihan cara persuasif dan memilih konflik karena trauma dari pengalaman sebelumnya atau meyakini cara tersebut dapat mendorong perubahan,” ungkapnya.
Menghadapi realitas ekologi yang bergejolak akibat perubahan iklim dan kemerosotan tatanan sosial, menurut Prof. Prudenius, diperlukan strategi penyelamatan yang lebih baik. “Kita tidak main-main dalam urusan penyelamatan ekologi karena salah memilih pendekatan berpotensi merusak tatanan sosial dan sumber daya alam,” ujarnya.
Pada tataran implementasi, kolaborasi sebagai proses kerja sama, Prof. Prudensius jelas menuntut para pemangku kepentingan untuk secara serius melakukan hal-hal berikut: 1) Secara proaktif mengartikulasikan kepentingan masing-masing pihak; 2) Secara proaktif membahas perbedaan kepentingan masing-masing pihak; 3) Secara proaktif membangun kepentingan bersama di atas kepentingan masing-masing pihak; 4) Secara proaktif merumuskan tujuan dan strategi yang harus dijalankan bersama; 5) Secara proaktif menetapkan mekanisme monitoring dan evaluasi untuk mengawal proses perwujudan tujuan bersama.
Menurutnya, kolaborasi harus dibangun dalam ikatan tujuan bersama agar semua pihak berkontribusi untuk mewujudkan tujuan bersama. Kolaborasi yang dibangun bersama menimbulkan rasa memiliki dan tanggung jawab untuk menjaganya secara berkelanjutan. “Mari kita bergandengan tangan untuk mempraktikkan dan memperkuat kolaborasi sebagai pendekatan jalan tengah untuk pelestarian lingkungan/ekologis demi keberlanjutan lingkungan kita.”













