Menu

Dark Mode
Pramono Dorong Investasi Singapura untuk MRT Fase 3 dan Transformasi Jakarta ‘go’ Global Rehabilitasi Terumbu Karang di Perairan Pulau Hanita, Manggarai Barat Pertumbuhan Semu 5,61% di Tengah Loyonya Rupiah dan IHSG : Ujian Berat Pengambilan Keputusan Ekonomi Kabinet Prabowo Pengalaman Transaksi Modern Bersama Bank Jakarta dan BliBli di Jakarta Fair 2026 Bank Jakarta Hadir di Hall C1 Anjungan Pemprov DKI di Jakarta Fair 2026 Masih Perlukah Kuliah di Era Skill-Based Economy?

Manufaktur & Kesehatan

Berinovasi Alat AI Deteksi Kanker, Alibaba Group Masuk Daftar Fortune’s 10th Annual Change the World

badge-check


					Dokter di sebuah rumah sakit di kota Lishui, provinsi Zhejiang, Cina, sedang memeriksa CT scan/Foto. Ist/Industriindonesia.id Perbesar

Dokter di sebuah rumah sakit di kota Lishui, provinsi Zhejiang, Cina, sedang memeriksa CT scan/Foto. Ist/Industriindonesia.id

INDUSTRIINDONESIA, JAKARTA – Fortune baru saja memasukkan Alibaba Group ke dalam daftar global tahunan ke-10 Change the World, yang memberikan penghargaan kepada perusahaan-perusahaan yang berhasil menyeimbangkan keuntungan dengan dampak sosial positif, untuk alat AI-nya yang bisa mendeteksi lesi kanker pankreas yang dikembangkan oleh lembaga riset Alibaba, DAMO Academy.

Alibaba berhasil menempati posisi ke-8 dalam daftar final yang terdiri dari 52 perusahaan global terkemuka dan menjadi satu-satunya perusahaan asal Cina yang masuk dalam 10 besar. Daftar ini dipilih oleh tim editor Fortune dari 250 perusahaan yang dinominasikan.

Daftar Change the World memberikan pengakuan kepada para pemimpin yang mendorong inovasi dan mengatasi isu sosial, sembari tetap meraih provitabilitas.

Matt Heimer, Executive Features Editor Fortune, mengatakan, masuknya perusahaan-perusahaan tersebut dalam daftar Fortune, terkait kemampuan mereka dalam memanfaatkan kekuatan pasar dan memahami cara mengatasi masalah sosial.

“Perusahaan-perusahaan yang masuk ke daftar ini berhasil memperlihatkan bagaimana cara memanfaatkan kekuatan pasar untuk mengatasi masalah sosial dan menghasilkan keuntungan dalam prosesnya,” ungkapnya, dalam keterangannya yang diterima redaksi.

Alibaba mendapatkan penghargaan berkat alat skrining kanker terobosannya yang disebut PANDA, yang dikembangkan oleh tim AI medis di DAMO Academy. Alat ini memiliki fungsi untuk mempercepat diagnosis lesi kanker dan prakanker sehingga prosesnya bisa menjadi lebih cepat dan terjangkau.

“Tujuan utama kami adalah menggunakan AI dalam setiap proses pengobatan kanker—mulai dari deteksi dini hingga diagnosis dengan akurasi dan aksesibilitas yang tinggi. Solusi berbasis cloud kami memberdayakan pasien yang mungkin tidak memiliki akses ke skrining kanker karena kelangkaan atau tingginya biaya perawatan medis yang khusus,” kata Le Lu, kepala tim AI medis DAMO.

Model berbasis deep learning ini mampu mendeteksi lesi kanker dan pra-kanker di pankreas melalui pemeriksaan CT scan non-kontras yang merupakan suatu bentuk pencitraan medis yang lebih efisien yang digunakan di seluruh dunia dengan menggunakan dosis radiasi yang lebih rendah dibandingkan CT scan kontras.

PANDA 34,1% lebih sensitif dibandingkan radiolog dalam mendeteksi kelainan saat melakukan skrining, menurut studi yang diterbitkan di majalah Nature Medicine oleh DAMO Academy yang bekolaborasi dengan lebih dari 10 lembaga medis.

Sampai saat ini, PANDA telah mencapai kemajuan yang signifikan dalam deteksi dini tujuh jenis kanker umum melalui satu kali CT scan, termasuk kanker pankreas, kanker esofagus, kanker paru-paru, kanker payudara, kanker hati, kanker lambung, dan kanker kolorektal.

Teknologi ini telah diimplementasikan pada awal tahun ini di dua rumah sakit di kota Lishui, provinsi Zhejiang, pesisir timur Cina, untuk memeriksa hasil pemindaian CT scan guna mencari tanda-tanda kanker.

“Kami akan terus memanfaatkan teknologi dan kemitraan strategis dengan rumah sakit untuk membuat layanan kesehatan lebih mudah diakses, lengkap, akurat, terjangkau, dan efisien,” tambah Lu.

Pada awal tahun ini, DAMO Academy mengumumkan kemitraannya dengan WHO Collaborating Center on Digital Health untuk memajukan inovasi di bidang kesehatan digital dan membawa manfaat AI medis ke lebih banyak negara berkembang.

Kemitraan ini akan memanfaatkan sumber daya masing-masing untuk melakukan penelitian dan memberikan konsultasi di bidang kesehatan digital, kecerdasan buatan, dan pengembangan industri guna mendukung organisasi internasional seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan International Telecommunication Union.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Krakatau Osaka Steel Akan Tutup Usahanya, Industri Baja Nasional Tertekan

6 May 2026 - 13:50

Industri Kosmetik Jadi Pilar Ekonomi Tumbuh, Ini Kata Menteri Agus!

5 May 2026 - 07:37

Pentingnya Kualitas Istirahat dengan Tidur yang Berkualitas

1 April 2026 - 15:42

Masyarakat Panik Soal BBM, Pemerintah Tegaskan Harga BBM Belum Naik

31 March 2026 - 21:02

BOBIBOS Langkah Inovasi di Tengah Ancaman Krisis Energ

29 March 2026 - 11:37

Trending on Elektronika & ESDM