Menu

Dark Mode
Pramono Dorong Investasi Singapura untuk MRT Fase 3 dan Transformasi Jakarta ‘go’ Global Rehabilitasi Terumbu Karang di Perairan Pulau Hanita, Manggarai Barat Pertumbuhan Semu 5,61% di Tengah Loyonya Rupiah dan IHSG : Ujian Berat Pengambilan Keputusan Ekonomi Kabinet Prabowo Pengalaman Transaksi Modern Bersama Bank Jakarta dan BliBli di Jakarta Fair 2026 Bank Jakarta Hadir di Hall C1 Anjungan Pemprov DKI di Jakarta Fair 2026 Masih Perlukah Kuliah di Era Skill-Based Economy?

News

Banjir Ekstrem di Bekasi dan Jakarta Perlihatkan Dampak Perubahan Iklim Terhadap Ketersediaan Air

badge-check


					Banjir Ekstrem di Bekasi dan Jakarta Perlihatkan Dampak Perubahan Iklim Terhadap Ketersediaan Air Perbesar

INDUSTRIINDONESIA, JAKARTA – Pemerintah berupaya mengantisipasi tantangan persoalan air yang semakin kompleks akibat cuaca ekstrem dan perubahan iklim.

Hal tersebut dipaparkan oleh Deputi Tata Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Sigit Reliantoro dalam acara Forum Air Indonesia yang digelar CNN bersama KLH di Jakarta, Rabu (26/3/2025).

Sigit mengatakan terdapat disparitas antara perkotaan dan pedesaan dalam akses air bersih. Di sisi lain perubahan iklim telah mengubah pola intensitas hujan secara drastis.

“Baru-baru ini, Bekasi dan Jakarta dilanda banjir akibat curah hujan ekstrem 115 milimeter (mm), padahal 100 mm saja itu sudah masuk kategori ekstrem,” katanya.

Menurutnya, aktivitas manusia yang mengganggu tutupan lahan memperburuk kondisi ini. Catatan KLH menunjukkan tutupan vegetasi hutan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Bekasi hanya tersisa 3,53 persen, sementara di hulu DAS Ciliwung hanya 10–11 persen.

“Saat hujan deras, sekitar 80 persen air menjadi limpasan, meningkatkan risiko banjir,” ujarnya.

Ia menambahkan, ketersediaan air di Indonesia tidak merata. Jawa dan Bali-Nusa Tenggara masuk kategori kritis, dengan defisit air di Jawa mencapai 118 miliar meter kubik per tahun. Sebaliknya, Sumatera dan Kalimantan masih memiliki cadangan air yang cukup.

Dari sisi kualitas, pemantauan terhadap 2.195 sungai menunjukkan hanya 2,19 persen titik yang memenuhi baku mutu air, sementara 96 persen tercemar ringan dan sebagian kecil tercemar berat.

“Pencemaran ini menyulitkan penyediaan air bersih karena membutuhkan teknologi pengolahan yang lebih canggih dan berbiaya tinggi,” kata Sigit.

Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU) Diana Kusumastuti mengatakan, pihaknya berupaya meningkatkan kapasitas tampungan air melalui konservasi dan revitalisasi sumber air seperti danau, situ, dan air tanah.

“Kami juga meningkatkan efisiensi penggunaan air untuk pertanian dengan metode padi hemat air yang dapat mengurangi pemakaian air hingga 30 persen serta meningkatkan produktivitas hingga dua ton per hektare,” ujarnya.

Ia juga menyoroti ketimpangan distribusi air di berbagai wilayah, terutama di Jawa dan Bali. Salah satu solusi yang didorong adalah pemerataan distribusi penduduk ke luar Jawa.

“Kami juga mendukung pengembangan peternakan di luar Jawa dan Bali untuk mengurangi beban kebutuhan air,” tambahnya.

Dalam hal penyediaan air minum, Diana menyebut cakupan akses air minum yang aman baru mencapai 43 persen, sementara yang memenuhi standar hanya 40,2 persen.

“Kami berupaya meningkatkan sistem penyediaan air minum yang terintegrasi dengan sanitasi,” katanya.

Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Isu Air, Retno Marsudi, mengungkapkan gletser sebagai sumber utama air tawar telah kehilangan 900 gigaton air dalam 50 tahun terakhir.

“Ini berkontribusi terhadap kenaikan permukaan air laut hingga 20 cm sejak tahun 1900,” katanya.

Ia juga mencatat sekitar 32 juta orang terdampak banjir, sementara 680 juta orang di pesisir terancam oleh naiknya air laut. Selain itu, 29 juta orang mengalami dampak kekeringan, dan pada 2050 diperkirakan tiga perempat wilayah dunia akan menghadapi krisis air.

“Pencemaran juga menjadi ancaman serius. Sebanyak tiga miliar orang hidup dengan risiko air terkontaminasi,” ujarnya.

Menurut Retno, krisis air ini membutuhkan kerja sama global antara pemerintah, sektor swasta, dan pemangku kepentingan lainnya.
“Air adalah sumber kehidupan dan elemen utama dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan,” tutup mantan Menteri Luar Negeri RI ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Rehabilitasi Terumbu Karang di Perairan Pulau Hanita, Manggarai Barat

13 June 2026 - 06:52

BGN Bermasalah, Saatnya Reformasi Kelembagaan BGN dan Tata Kelola MBG

6 June 2026 - 19:06

Kepala BGN Dicopot, “Terapi Kejut” Presiden Prabowo Perkuat Tata Kelola MBG

5 June 2026 - 22:04

217 Pengurus RT/RW di Kelurahan CBS, Ikuti Kegiatan Silaturahmi dan Penguatan Kelembagaan

12 May 2026 - 18:54

Wali Kota Jaktim Tekankan Kolaborasi Wujudkan Pendidikan Bermutu

4 May 2026 - 06:57

Trending on News